Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Tanda Awal Diabetes yang Perlu Dikenali

Selasa 11 Jan 2022 08:39 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

Tanda awal diabetes yang perlu dikenali (ilustrasi).

Tanda awal diabetes yang perlu dikenali (ilustrasi).

Foto: Pixabay
Sebagian penderita tak menyadari bahwa mereka memiliki diabetes.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini, ada sekitar 422 juta orang di dunia yang mengidap diabetes. Terdapat 1,5 juta kematian terkait diabetes setiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diabetes juga memicu beragam komplikasi seperti gagal ginjal, kebutaan, serangan jantung, amputasi tungkai bawah, hingga strok. Komplikasi-komplikasi ini bisa terjadi bila diabetes tak terkelola dengan baik.

Baca Juga

Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian penderita tak menyadari bahwa mereka memiliki diabetes. Mereka baru mulai menyadari penyakitnya ketika sudah muncul masalah atau komplikasi yang lebih serius.

Agar diabetes bisa ditemukan lebih dini, penting untuk mengetahui beragam gejala yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Berikut ini adalah delapan gejala atau tanda awal diabetes yang patut diwaspadai, seperti dilansir di Eat This Not That, Selasa (11/1/2022):

1. Peningkatan rasa haus

Salah satu gejala awal yang umum dialami penyandang diabetes adalah peningkatan rasa haus. Rasa haus ini muncul berkaitan dengan penumpukan glukosa di dalam aliran darah. Glukosa yang tak diproses ginjal akan menarik cairan dari jaringan-jaringan di sekitarnya. Hal ini yang kemudian memicu dehidrasi dan keinginan untuk terus minum meski sudah berupaya menghidrasi tubuh.

2. Sering berkemih

Pada tahap awal, tubuh akan meningkatkan produksi urine dengan tujuan untuk mengeluarkan kelebihan glukosa darah. Seseorang perlu mewaspadai diabetes bila frekuensi berkemihnya menjadi lebih sering dibandingkan biasanya.

3. Selalu lapar

Selain menyebabkan kadar gula darah naik, diabetes juga mempersulit sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi. Untuk mengompensasi kurangnya sumber energi ini, tubuh akan memproduksi sinyal lapar. Oleh karena itu, penyandang diabetes kerap merasakan lapar meski sudah makan teratur.

4. Lelah

Karena diabetes mempersulit tubuh untuk menggunakan gula sebagai energi, tubuh akan terasa lelah. Selain itu, frekuensi berkemih yang meningkat juga bisa mengganggu tidur pada malam hari dan semakin berkontribusi pada rasa lelah. Seseorang perlu mewaspadai adanya masalah kesehatan seperti diabetes bila terus merasa lelah, terlebih bila perasaan tersebut tidak membaik meski sudah mendapatkan tidur yang cukup.

5. Memar dan luka sulit sembuh

Penyakit diabetes juga dapat membuat proses penyembuhan memar dan luka di kulit menjadi lebih lama. Alasannya, kadar gula darah yang tinggi bisa mengeraskan pembuluh darah, memperlambat aliran darah, dan mencegah oksigen serta nutrisi sampai ke area terjadinya memar atau luka. Diabetes pun dapat mengganggu sistem imun sehingga proses penyembuhan alami tubuh melambat.

6. Pandangan kabur

Kadar gula darah yang tinggi dapat menarik cairan dari berbagai jaringan tubuh, termasuk lensa mata. Hal ini akan mengganggu kemampuan fokus yang kemudian berakibat pada pandangan kabur. Diabetes juga bisa menyebabkan terbentuknya pembuluh darah baru di retina yang mengganggu pembuluh darah yang sudah ada sebelumnya. Bila tak ditangani, kondisi ini dapat memicu kebutaan.

7. Disfungsi ereksi

Dampak lain dari kadar gula darah yang tinggi adalah merusak arteri di berbagai area tubuh, mulai dari jantung, otak, hingga penis. Kerusakan pembuluh darah akan membuat aliran darah ke penis menjadi kurang efektif. Hal ini menyebabkan ereksi menjadi lebih jarang terjadi, lebih sulit dan dicapai, dan lebih lunak dibandingkan normal.

8. Penurunan berat badan

Pada kasus diabetes, berat badan bisa menurun tanpa sebab. Penurunan ini terjadi karena diabetes mencegah sel-sel di dalam tubuh untuk menyerap glukosa dari makanan sebagai energi. Kondisi ini mendorong tubuh untuk mulai membakar cadangan lemak sebagai sumber energi. Kondisi ini yang kemudian memicu penurunan berat badan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA