Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Pandu Riono Apresiasi Kebijakan Jokowi dalam Penanganan Pandemi

Senin 10 Jan 2022 12:05 WIB

Red: Muhammad Hafil

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Foto: www.pixabay.com
Penanganan pandemi oleh Jokowi diapresiasi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia Pandu Riono menyatakan, mayoritas masyarakat Indonesia telah memiliki kekebalan tinggi terhadap potensi penularan covid-19. 

Menurut Pandu, Indonesia termasuk negara dan bangsa yang beruntung. Pasalnya, sebagian penduduk telah memiliki imunitas tinggi, lantaran telah berhasil sembuh dari covid. Hal lainnya juga terkait pelayanan kesehatan yang dilakukan pemerintah untuk mempercepat dan memperluas jangkauan vaksinasi. 

Baca Juga

“Kita beruntung sebagai bangsa dan negara, sebagian penduduk Indonesia divaksin oleh Tuhan (sembuh dari covid), kemudian dibooster oleh pemerintah, berkat inisiatif Presiden Jokowi,” kata Pandu saat menghadiri rilis survei Indikator Politik Indonesia bertajuk Pemulihan Ekonomi Pasca Covid, Pandemic Fatigue, dan Dinamika Elektoral Jelang Pemilu 2024 secara daring, Ahad (9/1/2022). 

Pandu mengatakan, konsistensi Presiden Jokowi dalam upaya pemulihan pandemi layak diapresiasi. Pandu berpendapat, inisiatif dan konsistensi yang ditunjukkan Presiden Jokowi membuat kerentanan semakin mengecil. 

“Kita harus apresiasi atas inisiatif vaksinasinya yang dilakukan Jokowi. Dia konsisten. Dengan usaha yang luar biasa, semua menteri mencari vaksin. Menteri luar negeri juga melakukan diplomasi vaksin. Itu kerja keras yang luar biasa. Dampaknya sekarang kita lihat,” ungkap Pandu.

Pandu mengatakan, untuk menyelesaikan pandemi butuh niat dan keputusan politik yang luar biasa. Kebijakan tepat yang diambil pemerintah, sambungnya, berdampak pada tingginya tingkat kepercayaan publik (approval rating) terhadap Presiden Jokowi. 

Dalam temuan Indikator, pada Desember 2021 approval rating Jokowi mencapai 71%, meningkat tajam dalam 4 bulan terakhir dibandingkan sebelumnya Juni 2021 sebesar 59%.

“Untungnya pak presiden jokowi berani mengubah kebijakan yang mungkin sudah diputuskan kabinet. Ternyata itu berdampak memperbaiki kinerjanya, disenangi masyarakat. Hotel laku dan perjalanan juga meningkat,” kata Pandu.

Beragam kebijakan dan solusi inilah yang kemudian tidak dilakukan pengetatan saat Natal dan Tahun Baru (Nataru). Ke depan, atau ketika memasuki Ramadhan, Pandu optimistis pengetatan tidak perlu dilakukan. 

“Kalau kondisinya masih seperti ini, Ramadhan tidak perlu diketatkan tidak apa. Sekarang senjata kita ada dua, vaksinasi dan masker. Mau bepergian atau berkumpul silakan. Pastikan sudah divaksinasi dua kali,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA