Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Israel Kembali Rayu Negara Muslim untuk Jalin Hubungan Diplomatik

Kamis 06 Jan 2022 19:59 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Bendera Israel (ilustrasi)

Bendera Israel (ilustrasi)

Foto: Antara
Israel menjajaki Maladewa dan Komoro untuk normalisasi hubungan diplomatik

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Israel kembali menjajaki negara-negara mayoritas Muslim untuk menjalin hubungan diplomatik. Kali ini, Maladewa dan Komoro menjadi daftar negara Muslim yang akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Menurut sumber diplomatik, seperti dilansir laman Middle East Monitor, Kamis (6/1/2022), belum ada indikasi dari sumber diplomatik bahwa pengumuman resmi akan datang dalam waktu dekat, meskipun pembicaraan tersebut dikatakan tengah berlangsung.

Baca Juga

Komoro adalah pulau mayoritas Muslim yang berbasis di Samudra Hindia, antara Madagaskar dan negara-negara daratan Mozambik dan Tanzania. Negara tersebut adalah satu-satunya negara Arab yang seluruhnya berada di Belahan Bumi Selatan dan merupakan anggota Liga Arab.

Amerika Serikat (AS) dilaporkan membawa kedua negara bersama-sama untuk berdiskusi tentang anggota Liga Arab yang membangun hubungan diplomatik dengan negara pendudukan Israel dan pembicaraan telah berlanjut secara bilateral. Pulau-pulau tetangga Maladewa menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 1965 tetapi menghentikan hubungan pada 1974.

Pada Juli 2018, di bawah Presiden Abdulla Yameen, Maladewa mengakhiri perjanjian kerja sama dengan Israel. Selain itu, pada Mei 2011, menteri luar negeri kepulauan itu saat itu, Ahmed Naseem, menjadi pejabat tinggi pertama dari Maladewa yang mengunjungi Israel. Namun, hubungan baru itu tidak berkembang menjadi hubungan diplomatik penuh.

Baca: Korea Utara Kembali Berulah, Berhasil Uji Terbang Rudal Hipersonik

Pada 2020, kesepakatan normalisasi yang ditandatangani oleh UEA dan Bahrain, diikuti oleh Sudan dan Maroko, dikecam oleh Palestina. Palestina mengeklaim negara-negara tersebut telah meninggalkan posisi bersatu di mana negara-negara Arab akan berdamai hanya setelah solusi dua negara tercipta, tetapi negosiasi masih menemui jalan buntu selama bertahun-tahun.

Baca: Puluhan Pengunjuk Rasa Tewas di Tangan Polisi Kazakhstan

Baca: Pandemi Buat Indonesia Prioritaskan Diplomasi Kesehatan pada 2022

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA