Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Masjid Kuno di Penang Malaysia Ini Didirikan Ulama Asal Minangkabau

Rabu 05 Jan 2022 14:32 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

Masjid Kuno di Penang Malaysia Ini Didirikan Ulama Asal Minangkabau. Foto: Masjid Batu Uban

Masjid Kuno di Penang Malaysia Ini Didirikan Ulama Asal Minangkabau. Foto: Masjid Batu Uban

Foto: Bernama
Syekh Muhammad Saleh Al Minangkabawi mendirikan masjid di Penang.

REPUBLIKA.CO.ID,GEORGE TOWN—Masjid berusia 300 tahun di Kampung Batu Uban, sebuah wilayah di George Town, Penang memiliki desain dan struktur bangunan yang unik dan terus dipertahankan keasliannya hingga kini. Ketua DKM Masjid Jamek Batu Uban Sheikh Abdul Azizi mengatakan, masjid ini didirikan pada 1734 oleh Syeikh Muhammad, seorang ulama terkemuka asal Minangkabau, Sumatra Barat, Indonesia atau dikenal dengan sebutan Syeikh Muhammad Saleh Al-Minangkabawi atau Syeikh al-Islam. 

Masjid ini memiliki ruang sholat utama dengan empat pilar yang hingga kini tidak diubah dari bentuk aslinya, termasuk mimbar dan kubahnya yang terbuat dari kayu cendana. “Ada beberapa perubahan yang dilakukan, namun tidak mempengaruhi desain asli masjid, seperti penambahan mushola yang merangkap sebagai ruang makan untuk berbuka puasa atau tempat kegiatan yang diadakan di masjid” ujarnya yang dikutip di Bernama, Rabu (5/1).

Baca Juga

“Bukannya kami tidak ingin masjid diperbaiki. Jika perbaikan dilakukan, masjid tidak bisa digunakan dan akan meresahkan masyarakat sekitar,” sambungnya. 

Selain itu, kendala lain yang mengurungkan niatnya untuk melakukan renovasi adalah perlunya pelibatan kontraktor yang berkualifikasi agar struktur asli masjid masih dapat terjaga, kata dia. Pada 2006, Penang Heritage Department telah mengubah struktur atap masjid agar lebih aman, tambahnya. 

Menurut Syekh Abdul Azizi, masjid ini juga memiliki sumur yang diyakini telah dibangun ratusan tahun lalu, yang tidak pernah kering meski di musim kemarau. “Menurut sejarah, ketika Haji Mohammed Saleh tiba di sini, dia menemukan dua mata air tidak jauh dari pantai. Setelah itu, ia memutuskan untuk membuka daerah tersebut dan sumur tersebut digunakan oleh para pengikutnya untuk persediaan air mereka. Meskipun sumurnya tidak jauh dari pantai, airnya tidak asin,” katanya.

Sumber

https://bernama.com/en/general/news.php?id=2038765

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA