Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Ini Tanda Pandemi akan Berakhir Menurut Para Ahli

Rabu 05 Jan 2022 03:18 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

 Seorang komuter berjalan melewati poster informasi TFL (Transport for London) yang memberi tahu penumpang bahwa wajib memakai masker di angkutan umum untuk menghentikan penyebaran COVID-19, di London, Selasa, 30 November 2021. Beberapa ahli mengatakan dunia harus belajar untuk hidup berdampingan dengan Covid-19.

Seorang komuter berjalan melewati poster informasi TFL (Transport for London) yang memberi tahu penumpang bahwa wajib memakai masker di angkutan umum untuk menghentikan penyebaran COVID-19, di London, Selasa, 30 November 2021. Beberapa ahli mengatakan dunia harus belajar untuk hidup berdampingan dengan Covid-19.

Foto: AP/Alastair Grant
Beberapa ahli mengatakan dunia harus belajar untuk hidup berdampingan dengan Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Beberapa ahli mengatakan dunia harus belajar untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 yang tidak akan pernah hilang. Spesialis penyakit menular di Yale School of Public Health, Albert Ko, mengatakan mutasi varian Covid-19 akan terus terjadi dan dunia sudah memiliki vaksin sebagai penangkalnya.

Menurut Ko, mutasi varian Omicron telah mendorong kenaikan kasus Covid-19 secara global sehingga dunia harus kembali memberlakukan tindakan pencegahan. Namun di sisi lain, vaksin menawarkan perlindungan yang kuat dari penyakit serius, meskipun tidak selalu mencegah infeksi ringan.

Baca Juga

Menurut Ko, Omicron tidak mematikan seperti beberapa varian sebelumnya. Masyarakat global akan mendapatkan perlindungan baru terhadap varian lain yang mungkin akan muncul di masa depan. “Tentu saja Covid-19 akan bersama kita selamanya. Kami tidak akan pernah bisa membasmi atau menghilangkan Covid-19, jadi kami harus mengidentifikasi tujuan kami," ujar Ko.

Untuk menyatakan berakhirnya pandemi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus menentukan berapa banyak negara yang telah mengurangi kasus Covid-19 secara memadai. Termasuk jumlah rawat inap dan kematian.

Namun, para ilmuwan berpendapat tolak ukur untuk menentukan berakhirnya pandemi masih belum jelas. Karena, negara-negara berpenghasilan rendah masih berjuang untuk memenuhi kekurangan vaksin atau perawatan kesehatan yang memadai. Sementara, beberapa negara lainnya lebih mudah bertransisi sebagai negara “endemik”.

Pakar penyakit menular dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Stephen Kissler, mendefinisikan periode endemik sebagai semacam kondisi mapan yang dapat diterima untuk menangani Covid-19. Menurutnya, krisis Omicron menunjukkan dunia belum mencapai tahap endemik.

“Saya pikir kita akan mencapai titik di mana SARS-CoV-2 menjadi endemik seperti halnya flu yang endemik,” ujar Kissler.

Kissler mengatakan sebagai perbandingan Covid-19 telah membunuh lebih dari 800 ribu orang Amerika dalam dua tahun. Sementara flu biasanya membunuh antara 12 ribu hingga 52 ribu orang per tahun. Seberapa banyak penyakit dan kematian akibat Covid-19 yang akan dihadapi dunia merupakan pertanyaan sosial, bukan pertanyaan ilmiah.

Pakar penyakit menular terkemuka Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci mengatakan di masa depan setiap negara dapat mengendalikan virus dengan cara yang tidak mengganggu masyarakat dan tidak mengganggu ekonomi. Amerika Serikat sudah mengirimkan sinyal mereka sedang menuju normal baru.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengatakan AS memiliki dosis suntikan booster yang cukup memadai dan sistem perawatan kesehatan yang mampu menangani ancaman varian baru Omicron. Bahkan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah memangkas periode karantina menjadi lima hari.

Baca juga : Omicron Mengancam, Pemprov DKI Belum Ada Rencana Setop PTM 100 Persen

sumber : Associated Press
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA