Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Benarkah Diutusnya Nabi Muhammad SAW Juga Tanda Kiamat?

Selasa 04 Jan 2022 04:47 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Benarkah Diutusnya Nabi Muhammad SAW Juga Tanda Kiamat?. Foto:  Hari Kiamat (ilustrasi)

Benarkah Diutusnya Nabi Muhammad SAW Juga Tanda Kiamat?. Foto: Hari Kiamat (ilustrasi)

Foto: pulsk.com
Jarak antara diutusnya Nabi Muhammad dan kiamat tak jauh.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Allah SWT memberikan ciri-ciri atau tanda datangnya hari kiamat, meski tak ada satu pun makhluk-Nya yang dapat mengetahui secara pasti kapan hari kiamat tiba. Namun benarkah salah satu tanda kiamat adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW?

Muhammad Abduh Tuasikal dalam buku Prediksi Akhir Zaman menjelaskan, diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah di antara tanda semakin dekatnya kiamat. Sebab dalam sebuah hadis, beliau sendiri mengatakan bahwa jarak antara pengutusan beliau dan datangnya kiamat adalah bagaikan dua jari, yakni jari tengah dan jari telunjuk.

Baca Juga

Ibnu Abbas mengatakan, “Diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah di antara tanda-tanda kiamat. Tatkala Jibril melewati penduduk langit untuk diutus kepada Nabi, penduduk langit pun mengatakan ‘Allahu Akbar, sebentar lagi akan kiamat’,”.

Keimanan terhadap hari kiamat adalah di antara pokok ajaran Islam, bahkan termasuk dari rukun iman. Keimanan seseorang barulah sempurna jika dia meyakini adanya hari kiamat sebagaimana yang Allah tentukan.

Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 177, “Laisal-birra an tuwallu wujuhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi walakinnal-birra man aamana billahi wal-yaumil-akhiri wal-malaikati wal-kitabi wannabiyyina,”.

Yang artinya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajian, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi,”.

Alquran juga menyebutkan bahwa hari kiamat sesungguhnya benar-benar akan terjadi. Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 2, “Yudabbirul-amra yufasshilul-aayati la’allakum biliqaa-I Rabbakum tuuqinun,”. Yang artinya, “Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu,”.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA