Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Anak-Anak yang tidak Divaksin Mulai Mengisi Rumah Sakit di AS Akibat Covid-19

Jumat 31 Dec 2021 06:21 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Mas Alamil Huda

Lonjakan akibat varian omicron yang membuat kasus Covid-19 meroket di Amerika Serikat (AS) menempatkan anak-anak di rumah sakit mendekati jumlah rekor. Tenaga medis mengenakan masker pelindung saat membawa pasien masuk ke rumah sakit di New York, Amerika, beberapa waktu lalu.

Lonjakan akibat varian omicron yang membuat kasus Covid-19 meroket di Amerika Serikat (AS) menempatkan anak-anak di rumah sakit mendekati jumlah rekor. Tenaga medis mengenakan masker pelindung saat membawa pasien masuk ke rumah sakit di New York, Amerika, beberapa waktu lalu.

Foto: AP Photo/John Minchillo
Para ahli menyesalkan bahwa sebagian besar anak-anak tersebut diketahui tidak divaksi

REPUBLIKA.CO.ID, SEATTLE -- Lonjakan akibat varian omicron yang membuat kasus Covid-19 meroket di Amerika Serikat (AS) menempatkan anak-anak di rumah sakit mendekati jumlah rekor. Para ahli menyesalkan bahwa sebagian besar anak-anak tersebut diketahui tidak divaksinasi.

"Ini sangat memilukan. Itu cukup sulit tahun lalu, tetapi sekarang Anda tahu bahwa Anda memiliki cara untuk mencegah semua ini," kata ahli penyakit menular di Rumah Sakit Anak Philadelphia, dr Paul Offit, Kamis (30/12).

Baca Juga

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan, selama 21-27 Desember, rata-rata 334 anak berusia 17 tahun ke bawah dirawat per hari di rumah sakit akibat Covid-19. Jumlah ini meningkat 58 persen dari pekan sebelumnya. Puncak sebelumnya selama pandemi terjadi pada awal September, ketika rawat inap anak rata-rata 342 per hari.

Anak-anak memang masih mewakili sebagian kecil dari mereka yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19. Rata-rata lebih dari 9.400 orang dari segala usia dirawat per hari selama pekan yang sama pada Desember.

Banyak dokter mengatakan, anak-anak yang datang sekarang tampak kurang sakit atau dengan gejala ringan daripada yang terlihat selama gelombang delta selama musim panas. Kondisi ini bisa dipengaruhi dengan keputusan dua bulan untuk vaksinasi anak berusia 5 hingga 11 tahun.

Laporan CDC menyatakan, sekitar 14 persen anak-anak telah terlindungi sepenuhnya. Angka ini lebih tinggi untuk anak berusia 12 hingga 17 tahun, sekitar 53 persen.

Tapi, menurut profesor epidemiologi dan penyakit menular di Yale School of Public Health, Albert Ko, masalahnya dalam banyak kasus adalah waktu. Anak-anak dengan usia lebih muda tidak disetujui untuk menerima vaksin sampai November dan banyak yang baru sekarang datang untuk dosis kedua.

Offit mengatakan, tidak ada anak-anak yang memenuhi syarat vaksin yang menerima perawatan di rumah sakit sekitar sepekan yang lalu telah divaksinasi. Meskipun dua pertiga memiliki kondisi mendasar yang menempatkan mereka pada risiko, baik penyakit paru-paru kronis atau lebih umum, obesitas. Hanya satu yang berusia di bawah 5 tahun vaksinasi.

"Mereka berjuang untuk bernapas, batuk, batuk, batuk. Sejumlah kecil dikirim ke ICU untuk dibius. Kami meletakkan lampiran di tenggorokan mereka yang terpasang pada ventilator, dan orang tuanya menangis," kata Offit.

Menurut Offit, tidak satu pun dari orang tua atau saudara kandung yang divaksinasi. Ini akan membuat empat hingga enam pekan ke depan akan sulit. "Ini adalah virus yang tumbuh subur di musim dingin," katanya.

Secara keseluruhan, kasus Covid-19 baru di AS dari segala usia telah meroket ke tingkat tertinggi yang pernah tercatat. Rata-rata 300 ribu kasus per hari atau dua setengah kali lipat dari angka dua pekan lalu. CDC melaporkan, omicron yang sangat menular menyumbang 59 persen dari kasus baru pekan lalu.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA