Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Kemenkes: Kasus Omicron Indonesia Bertambah 21 Pasien

Rabu 29 Dec 2021 16:42 WIB

Red: Ratna Puspita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan kasus Omicron di Tanah Air bertambah 21 pasien sehingga totalnya menjadi 68 pasien pada 29 Desember 2021. (Foto: Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan kasus Omicron di Tanah Air bertambah 21 pasien sehingga totalnya menjadi 68 pasien pada 29 Desember 2021. (Foto: Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi)

Foto: DOk BNPB
Kasus positif Covid-19 varian Omicron di Indonesia sampai saat ini sebanyak 68 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan kasus Omicron di Tanah Air bertambah 21 pasien pada Rabu (29/12). Angka tersebut didominasi para pelaku perjalanan luar negeri.

"Adanya kasus Omicron Indonesia karena adanya perjalanan dari beberapa negara, seperti Arab Saudi dan Turki, sehingga masyarakat diimbau untuk mempertimbangkan (jika ingin) berlibur ke sana," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Baca Juga

Dengan adanya tambahan kasus tersebut, data kasus positif Covid-19 varian Omicron di Indonesia sampai saat ini berjumlah total 68 orang. Nadia mengatakan, 21 kasus baru itu merupakan pelaku perjalanan luar negeri, yang terdiri atas 16 Warga Negara Indonesia (WNI) dan lima warga negara asing (WNA).

Negara kedatangan paling banyak adalah Arab Saudi dan Turki. Sampai saat ini kasus Omicron di Indonesia kebanyakan dari pelaku perjalanan luar negeri.

Saat dikonfirmasi terkait keterangan tersebut, Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi masuknya Omicron di Indonesia. Nadia mengatakan upaya pelacakan kasus sedang diintensifkan di berbagai daerah untuk mendeteksi dini penyebaran Omicron sehingga dapat dicegah.

"Memang sejak semalam ada beberapa peristiwa evakuasi pasien di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan, tapi belum tentu juga Omicron, bisa saja Covid-19 saja," katanya.

Nadia mengatakan, pengetatan di pintu masuk negara terus dilakukan, terutama di perbatasan laut dan darat. "Positivity rate di pintu masuk laut dan darat 10 kali lebih tinggi daripada di udara," katanya.

Nadia mengimbau masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan. "Kesadaran diri dan menahan keinginan berpergian harus dilakukan. Saya meminta masyarakat untuk bekerja sama mencegah penularan virus Covid-19 dengan menahan diri tidak bepergian," ujarnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA