Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Selandia Ungkap Penyebab Kematian Pria Setelah Divaksin Pfizer

Senin 20 Dec 2021 13:48 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

seseorang berjalan melewati kantor pusat Pfizer di New York, New York, AS, 9 November 2021. Selandia Baru ungkap penyebab kematian pria yang meninggal dua pekan usai divaksin. Ilustrasi.

seseorang berjalan melewati kantor pusat Pfizer di New York, New York, AS, 9 November 2021. Selandia Baru ungkap penyebab kematian pria yang meninggal dua pekan usai divaksin. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/JUSTIN LANE
Selandia Baru ungkap penyebab kematian pria yang meninggal dua pekan usai divaksin

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Pihak berwenang Selandia Baru pada Senin (20/12) mengungkap kematian seorang pria berusia 26 tahun setelah menerima vaksin Covid-19 dari Pfizer. Pria tersebut menderita miokarditis atau peradangan otot jantung yang langka setelah mengambil dosis vaksin pertamanya.

Kasus tersebut adalah kematian kedua yang terkait dengan efek samping vaksinasi Covid-19. Otoritas kesehatan melaporkan kasus kematian pertama terhadap seorang wanita yang meninggal dunia setelah mendapatkan vaksinasi dosis pertama.

Baca Juga

“Dengan informasi yang tersedia saat ini, dewan telah mempertimbangkan bahwa miokarditis mungkin disebabkan oleh vaksinasi pada individu ini,” kata Dewan Pemantau Keamanan Independen Vaksin Covid-19 Selandia Baru.

Pria itu meninggal dalam waktu dua pekan setelah mendapatkan vaksinasi dosis pertama. Ketika muncul gejala, pria itu tidak segera pergi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Miokarditis adalah peradangan pada otot jantung yang dapat membatasi kemampuan organ untuk memompa darah. Miokarditis dapat menyebabkan perubahan ritme detak jantung.

Dewan keamanan vaksin mengatakan, dua orang lainnya termasuk seorang anak berusia 13 tahun telah meninggal dengan kemungkinan miokarditis usai melakukan vaksinasi. Dewan keamanan vaksin menambahkan, butuh rincian lebih lanjut sebelum secara resmi menghubungkan kematian anak remaja tersebut dengan vaksin Covid-19.

Dewan keamanan vaksin menyebut kematian seorang pria lainnya yang berusia 60-an tidak mungkin terkait dengan vaksin. Efek samping akibat vaksin sangat jarang. Dewan keamanan vaksin mengatakan manfaat vaksinasi jauh lebih besar daripada risikonya.

sumber : Reuters
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA