Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Satgas: Masyarakat Agar Bijak Memilih Lokasi Wisata Saat Nataru

Jumat 17 Dec 2021 14:54 WIB

Rep: dian fath risalah/ Red: Hiru Muhammad

Sejumlah pengunjung menyaksikan pertunjukan badut di Jungleland, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/12/2021). Taman rekreasi tematik Jungleland kembali dibuka setelah tutup selama dua tahun akibat pandemi COVID-19 dan bagi wisatawan yang akan berkunjung harus telah vaksin minimal dosis pertama dan wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Sejumlah pengunjung menyaksikan pertunjukan badut di Jungleland, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/12/2021). Taman rekreasi tematik Jungleland kembali dibuka setelah tutup selama dua tahun akibat pandemi COVID-19 dan bagi wisatawan yang akan berkunjung harus telah vaksin minimal dosis pertama dan wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Varian baru Covid-19 omicron telah terdeteksi masuk Indonesia pada Rabu (15/12) malam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menjelang liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), mobilitas masyarakat mulai meningkat di tanah air. Guna menekan risiko penularan Covid-19 yang biasanya mengiringi pergerakan manusia, pemerintah melakukan pengetatan dan meminta masyarakat menjadi wisatawan yang tanggung jawab dengan mengedepankan perlindungan kesehatan. 

Terlebih, varian baru Covid-19 omicron telah terdeteksi masuk Indonesia pada Rabu (15/12) malam. Pasien pertama merupakan petugas kebersihan di RSDC  Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, Sonny Harry Harmadi meminta masyarakat untuk bijak memilih lokasi wisata dan mempertimbangan destinasi prioritas di seluruh Indonesia. “Pertama, harus hindari kerumunan,” kata Sonny dikutip Jumat (17/12). 

Baca Juga

Aturan yang ada, seperti pembatasan kapasitas, larangan pesta dan arak-arakan tahun baru, kata Sonny, adalah untuk mencegah terjadinya kerumunan. kemudian, skrining PeduliLindungi di mana hanya kategori hijau yang boleh masuk, serta persyaratan perjalanan, ujarnya, adalah untuk membatasi masyarakat dalam hal bermobilitas. “Mohon masyarakat memahami, semua aturan diberlakukan untuk melindungi msyarakat agar tidak terjadi lonjakan kasus. Apalagi Omicron sudah ditemukan di Indonesia,” papar Sonny.

Terkait varian baru tersebut, ia menjelaskan bahwa seperti virus SARS-CoV-2 lainnya, penanggulangannya sama. Yakni percepatan vaksinasi, karena terbukti efektif mengurangi angka kesakitan dan kematian. Kemudian, kepatuhan prokes, mendorong upaya deteksi, dan membatasi mobilitas.

Menyoroti penurunan kepatuhan prokes pada November dan awal Desember, Sonny mengingatkan, bila kepatuhan prokes turun dan mobilitas naik, kemudian ada varian baru yang lebih menular, maka akan terjadi potensi atau risiko lonjakan kasus. 

Ratih C Sari sebagai Tenaga Medis sekaligus Pelaku Perjalanan Wisata juga  menegaskan pentingnya memilih destinasi wisata, waktu bepergian, juga kegiatan yang dilakukan,  guna memastikan liburan berlangsung aman. Kali ini, Ratih menyarankan masyarakat memilih  berwisata dalam negeri, khususnya wisata alam, karena wisata ke luar negeri lebih berisiko.“Masyarakat harus betul-betul bijak dan memahami kita masih dalam pandemi, jadi prokes tidak boleh ditinggalkan sama sekali,” tegas Ratih. 

Pada saat bepergian dengan anak-anak, kata Ratih, orang tua harus memastikan anak-anak patuh  prokes, mengingat kebutuhan jaga prokes pada anak berbeda dengan orang dewasa.“Kepatuhan prokes anak kecil adalah kepatuhan orang tuanya. Jadi orang tua yang harus selalu  mengingatkan,” tuturnya. 

Hal ini, juga dikarenakan anak-anak dapat menjadi super spreader sehingga  peran orang dewasa untuk turut menjaga menjadi sangat penting.“Berlibur memang penting. Tapi kalau hanya karena itu, lalu kita tidak bisa bertanggung jawab dan jadi meningkatkan kasus, maka itu tidak sebanding,” tegasnya . 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA