Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Erick Thohir: Indonesia Hadapi 3 Tekanan Luar Biasa Saat Ini 

Sabtu 11 Dec 2021 16:06 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ratna Puspita

Menteri BUMN Erick Thohir

Menteri BUMN Erick Thohir

Foto: Istimewa
Disrupsi digital mengubah banyak hal, mulai dari model bisnis, hingga pekerjaan. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, Indonesia sedang menghadapi tiga tekanan besar yang datang bersamaan, yakni sektor kesehatan, disrupsi digital, dan pasar global. Erick mengatakan, tekanan ini pun datang tatkala ia melakukan transformasi dan bersih-bersih BUMN.

"Tiga atau empat hari lalu, saya berdiskusi sampai jam 01.00 pagi, jangan-jangan ini tekanan yang menjadi ujian terberat untuk manusia," ujar Erick saat Orasi Ilmiah bertajuk "Peranan BUMN dalam Hilirisasi Hasil-hasil Inovasi Teknologi" di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (11/12).

Baca Juga

Erick mengatakan, disrupsi digital mengubah banyak hal, mulai dari model bisnis, jenis usaha, hingga lapangan pekerjaan. Erick mengatakan pandemi covid-19 juga berdampak pada rantai pasok global.

Ia mengatakan, hal ini terbukti dengan untuk pertama kalinya, Korea Selatan (Korsel) membeli urea industri dari Indonesia padahal selama ini mereka dapat dari China. Erick menyebut, Australia juga tertarik membeli urea industri dari Indonesia.

"Tetapi harga fosfat makin mahal juga yang kita beli dari Maroko atau Yordania, harga kontainer juga melambung," ucap Erick.

Erick memproyeksikan perubahan rantai pasok global akan terus terjadi dan menjadi momentum bagi Indonesia untuk dapat menjadi pemain utama di kancah global. Erick menyebut tren harga komoditas andalan Indonesia seperti batubara dan kopi terus mengalami peningkatan.

"Karena itu, kemarin semua negara karena tahu Indonesia ini kaya sumber daya alam, di G20 kita dipaksa menandatangani supply chain agreement. Terima kasih kepada bapak presiden, beliau menolak dan kami menteri-menteri pun mendukung untuk menolak," kata Erick.

Erick menilai saat bukan eranya Indonesia melepas sumber daya alam untuk pertumbuhan ekonomi bangsa lain. Bagi Erick, sudah waktunya sumber daya alam harus dimanfaatkan untuk pertumbuhan negeri sendiri. 

Begitu pula, dengan market yang harus dipastikan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Jangan lupa kita masih menghadapi tekanan kesehatan yang menimbulkan ketidakpastian ekonomi terjadi, ketika covid naik, ekonominya menurun," kata Erick.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA