Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

Kemenag Harap MTQ Jadi Sarana Implementasi Moderasi Beragama

Kamis 09 Dec 2021 21:57 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menyampaikan sejumlah inovasi program dalam rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menyampaikan sejumlah inovasi program dalam rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur

Foto: Kemenag
Ditjen Bimas Islam berharap MTQ dapat menambah kecintaan masyarakat ke Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menyampaikan sejumlah inovasi program dalam rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ). Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan peran MTQ dalam menambah kecintaan masyarakat kepada Alquran.

"Kemenag punya program prioritas moderasi beragama. MTQ harus menjadi sarana mendesiminasikan perilaku keagamaan yang moderat," kata Dirjen pada Rakornas Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (8/12).

Baca Juga

"Misalnya konten moderasi beragama ini dimasukkan dalam cabang Tafsir Al-Qur'an, Syarhil Al-Qur'an, penulisan makalah, atau buat cabang baru Debat Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab," tambahnya memberi contoh.

Selain itu, Dirjen juga memberikan arahan agar MTQ lebih berdampak dalam menambah pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur'an. Secara khusus, Dirjen mendukung adanya serangkaian seminar Al-Qur'an dalam rangkaian MTQ.

"Ada seminar dan diskusi yang membahas tema aktual dari perspektif Al-Qur'an. Adakan seminar nasional bahkan internasional tentang Al-Qur'an dan isu keagamaan yang aktual," tambahnya. 

Terkait musabaqah Al-Hadits, Dirjen juga memberikan arahan agar lomba tidak sekadar menghafal melainkan ditambah pengayaan terkait perawi. Pasalnya, pengetahuan mendalam tentang perawi berdampak signifikan dalam meningkatkan kecintaan masyarakat kepada hadits sebagai sumber utama ajaran Islam.

"Saat menyebut perawi dari Imam Bukhari sampai ke Nabi, jangan hanya dihafal tetapi juga dijelaskan siapa perawi dan biografinya.  Siapa gurunya, siapa muridnya, hidup di tahun berapa, apa saja kontribusinya dalam Islam, dan seterusnya. Ini menarik supaya perlombaan menjadi ajang akademik yang menantang," pungkas Profesor Ilmu Hadits itu.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA