Kamis 09 Dec 2021 12:37 WIB

Survei: Separuh Warga Israel Setuju Serang Iran tanpa Restu AS

Israel siap bertindak untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett memimpin rapat kabinet di kantor perdana menteri di Yerusalem, Ahad, 5 Desember 2021. Bennett pada hari Minggu mendesak kekuatan dunia untuk mengambil garis keras terhadap Iran dalam negosiasi untuk mengekang program nuklir negara itu, sebagai puncaknya pejabat pertahanan dan intelijen menuju ke Washington di tengah pembicaraan yang gagal. Setengah warga Israel mengatakan akan mendukung negaranya menyerang Iran tanpa lampu hijau dari Amerika Serikat (AS).
Foto: AP/Gil Cohen-Magen/Pool AFP
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett memimpin rapat kabinet di kantor perdana menteri di Yerusalem, Ahad, 5 Desember 2021. Bennett pada hari Minggu mendesak kekuatan dunia untuk mengambil garis keras terhadap Iran dalam negosiasi untuk mengekang program nuklir negara itu, sebagai puncaknya pejabat pertahanan dan intelijen menuju ke Washington di tengah pembicaraan yang gagal. Setengah warga Israel mengatakan akan mendukung negaranya menyerang Iran tanpa lampu hijau dari Amerika Serikat (AS).

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Setengah warga Israel mengatakan akan mendukung negaranya menyerang Iran tanpa lampu hijau dari Amerika Serikat (AS). Middle East Eye melaporkan hasil itu didapatkan dari jajak pendapat yang dirilis oleh Institut Demokrasi Israel pada Rabu (8/12).

Israel telah berusaha untuk menahan agar negara-negara besar berhenti melakukan pembicaraan kesepakatan nuklir Iran. Terlebih lagi Amerika Serikat (AS) dalam pemerintah Joe Biden mempertimbangkan kembali masuk dalam Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang sebelumnya ditinggalkan.

Baca Juga

Israel tetap menjadi kritikus vokal dari pembicaraan di Wina. Dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pekan lalu, Perdana Menteri Naftali Bennett menyerukan segera diakhirinya negosiasi dengan Iran.

"Saya menyerukan kepada setiap negara yang bernegosiasi dengan Iran di Wina untuk mengambil garis tegas dan menjelaskan kepada Iran bahwa mereka tidak dapat memperkaya uranium dan bernegosiasi pada saat yang sama. Iran harus mulai membayar harga atas pelanggarannya," katanya.

Menurut Bennett, Israel sedang bekerja untuk meyakinkan AS untuk mengejar perangkat yang berbeda dalam menangani program nuklir Teheran. Blinken juga mengeluarkan pandangan pesimistis tentang keadaan negosiasi.

"Apa yang telah kita lihat dalam beberapa hari terakhir adalah bahwa Iran saat ini tampaknya tidak serius untuk melakukan apa yang diperlukan untuk kembali dalam kepatuhan," katanya.

AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Menurutnya kesepakatan itu gagal meminta pertanggungjawaban Iran atas penggunaan proxy regional dan dukungannya terhadap terorisme.

 

Pemerintahan Trump memberlakukan sanksi yang melemahkan terhadap Teheran sebagai bagian dari kampanye tekanan maksimum. Teheran pun mulai memperkaya uranium dalam jumlah kecil hingga kemurnian 60 persen.

Baru-baru ini, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi telah menjangkau Iran secara langsung. Upaya ini didorong oleh kekhawatiran atas komitmen AS untuk pertahanan.

Israel diyakini sebelumnya menargetkan Iran dan program nuklirnya melalui pembunuhan ilmuwan serta serangan yang menyabotase situs nuklirnya. Pejabat Iran menuduh Israel atas pemadaman listrik yang diduga menyebabkan ledakan di pabrik pengayaan uranium Natanz pada  April silam.

Direktur Mossad David Barnea mengatakan pekan lalu Israel siap bertindak untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. "Iran tidak akan memiliki senjata nuklir di tahun-tahun mendatang, tidak akan pernah. Itu janji saya, itu janji Mossad," tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement