Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Senat AS Dukung Penjualan Rudal ke Arab Saudi

Rabu 08 Dec 2021 13:07 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Dukungan senat memungkinkan AS memasok ratusan rudal ke Arab Saudi. Ilustrasi.

Dukungan senat memungkinkan AS memasok ratusan rudal ke Arab Saudi. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/SEPAHNEWS
Dukungan senat memungkinkan AS memasok ratusan rudal ke Arab Saudi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Senat Amerika Serikat (AS) pada Selasa (7/12) menolak resolusi yang melarang penjualan rudal udara-ke-udara jarak menengah, peluncur rudal, dan senjata lainnya ke Arab Saudi. Keputusan tersebut diambil berdasarkan pemungutan suara dengan hasil 67 menolak resolusi dan 30 mendukung resolusi.

Sebagian besar anggota parlemen AS menganggap Arab Saudi sebagai mitra penting di Timur Tengah. Sementara anggota Kongres mengkritik Saudi karena keterlibatannya dalam perang di Yaman, yang dianggap sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

Baca Juga

"Mengekspor lebih banyak rudal ke Arab Saudi tidak menghasilkan apa-apa selain melanjutkan konflik ini dan menuangkan lebih banyak bensin ke api yang sudah terbakar,” ujar anggota parlemen Bernie Sanders, yang berkaukus dengan Demokrat.

Sanders mengatakan mereka telah menolak untuk menyetujui penjualan militer untuk Saudi, tanpa jaminan peralatan AS tidak akan digunakan untuk membunuh warga sipil. Pendukung penjualan mencatat pemerintahan Presiden Joe Biden telah melarang penjualan senjata ofensif AS ke Arab Saudi.

Senator Republik Rand Paul, Senator Demokrat Bernie Sanders, dan Senator Republik Mike Lee telah memperkenalkan resolusi bersama untuk memblokir penjualan senjata AS ke Arab Saudi. Mereka menuduh Saudi melembagakan blokade udara dan laut di Yaman.

"Sebuah pesan perlu dikirim ke Arab Saudi bahwa kami tidak menyetujui perang mereka dengan Yaman. Dengan berpartisipasi dalam penjualan ini, kami tidak hanya akan menghargai perilaku tercela, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman," kata Paul.

Paul mendesak Kongres dan Pemerintah Presiden AS Joe Biden untuk mempertimbangkan kemungkinan konsekuensi dari penjualan tersebut. Penjualan rudal dapat mempercepat perlombaan senjata di Timur Tengah dan membahayakan keamanan teknologi militer AS.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA