Selasa 07 Dec 2021 14:26 WIB

Jeritan Warga Muaragembong Menanti Solusi Banjir Rob

Banjir rob menyapa permukiman warga Muaragembong hingga setinggi paha pria dewasa.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Seorang anak bermain saat banjir rob menggenangi Desa Pantai Mekar, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (6/12/2021).
Foto: Antara/Arif Firmansyah
Seorang anak bermain saat banjir rob menggenangi Desa Pantai Mekar, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (6/12/2021).

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Banjir rob yang melanda Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ibarat tambahan siklus musim, selain kemarau dan hujan, bagi warga yang bermukim di wilayah pesisir tersebut. Musibah rutin yang kembali datang untuk kesekian kalinya tersebut mengakibatkan aktivitas kehidupan masyarakat terganggu.

Bahkan, sebagian warga yang tinggal di pesisir utara Laut Jawa itu sampai trauma. Kini, banjir rob kembali menyapa ratusan permukiman warga hingga setinggi paha pria dewasa. Kondisi itu memaksa warga hanya mampu bertahan di dalam rumah tanpa bisa beraktivitas layaknya kehidupan normal.

Baca Juga

Aktivitas melaut nelayan yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga terhenti. Kegiatan perniagaan, bercocok tanam, pertambakan, serta sektor usaha lain pun tidak berjalan mengakibatkan roda perekonomian praktis tak berputar. Lantas apa yang bisa dilakukan warga di tengah kondisi seperti ini?

Tak banyak sebenarnya permintaan warga, tidak juga menanti uluran bantuan dari pemerintah. Warga hanya meminta pemerintah hadir di tengah-tengah warga, bersama-sama mencari solusi penanganan yang serius agar musibah serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.

"Ya, Allah, Bang banjir dari Kamis kemarin tidak surut-surut, entar mau surut tiba-tiba tinggi lagi. Kemarin tinggi banget pas hari Sabtu sampai sepaha. Tolongin apa, Bang, biar dibenerin. Bupati kita ora ada pisan (tidak ada sama sekali) ini. Di mana pemerintah? Kami rakyatmu," ucap warga Kampung Muara Jaya, Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong, Dalih (37 tahun), Selasa (7/12).

Jeritan warga yang terdengar cukup lantang di telinga itu hanya meminta pemerintah melakukan penanganan serius agar banjir rob tidak kembali menerjang pemukimannya. Bagaimana tidak? Betapa pilunya warga saat Bulan Desember 2021 datang dengan membawa air pasang masuk ke rumah-rumah.

Jangankan beraktivitas, untuk beristirahat saja mereka tak kuasa karena khawatir debit air semakin tinggi. Seperti derita Dalih bersama suami dan anak-anaknya, hanya bisa bertahan di dalam rumahnya yang terendam itu. Anak-anaknya yang masih balita kerap menangis karena tidak nyaman dengan kondisi rumah yang terendam.

Sedangkan sang suami tidak bisa bekerja karena akses jalan terputus. Di sisi lain, sang suami memilih bertahan di rumah karena khawatir air makin tinggi. Opsi mengungsi pun tidak bisa dilakukan karena kediaman sanak saudaranya juga dikepung banjir.

Kampung Muara Jaya yang ditinggalinya menjadi salah satu daerah yang kerap dilanda banjir rob terparah. Kampung ini menjadi daratan paling utara di antara batas pantai lainnya. Lokasinya pun paling dekat dengan Jakarta Utara.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ketinggian banjir rob di Muara Jaya bervariasi mulai di atas mata kaki hingga setinggi lutut orang dewasa. Banjir di wilayah itu mulai terjadi sejak pekan lalu. Ketika itu angin bertiup lebih kencang dari biasanya hingga membuat air laut menggenangi rumah warga.

Sejak pertama merendam, banjir rob ini tidak pernah benar-benar surut. Permukaan air biasanya naik pada pagi hari, kemudian semakin tinggi menjelang siang. Setelah itu, air sempat surut. tapi kemudian naik kembali.

Kondisi terkini banjir rob telah melanda lima dari total enam desa di wilayah Kecamatan Muaragembong, di antaranya Pantai Mekar, Pantai Sederhana, Pantai Bahagia, Pantai Harapan Jaya, dan Pantai Bakti. Satu desa tidak terendam, yakni Desa Jayasakti lantaran lokasinya yang tidak berada di pesisir pantai.

Camat Muaragembong Lukman Hakim mengaku, telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi banjir rob. Namun, ikhtiar tersebut tidak maksimal karena penanganan tak bisa dilakukan secara menyeluruh. Kewenangan penanganan pesisir pantai berada di ranah tingkat provinsi dan pusat, bukan kabupaten.

"Kami berharap ada penanganan serius karena yang menjadi korban masyarakat kami. Setiap tahun kami terus menjalin komunikasi dengan provinsi dan pusat, namun tidak ada tindakan nyata. Kalau survei mah sering," kata Lukman.

Dia menyayangkan, penanganan yang dilakukan saat ini baru sebatas tanggap darurat. Padahal, setiap tahun banjir rob terus meluas karena terjadi abrasi hampir di seluruh pesisir pantai.

"Perlu penanganan serius. Saat ini yang ditangani baru tanggul-tanggul sungai yang jebol tapi itu juga baru tanggap darurat. Kami mohon banjir rob ini diselesaikan juga karena kasihan warga," ucapnya.

Lukman pun mengusulkan pemerintah pusat membangun tanggul pantai dan penampungan air di sepanjang pesisir Muaragembong. Tujuannya untuk mengurangi dampak banjir rob yang setiap tahun melanda wilayahnya. Pembangunan infrastruktur itu diharapkan mampu menahan laju luapan tinggi air laut yang saat ini sudah berada pada titik -240 pp.

"Jadi nantinya akan terintegrasi antara tanggul pantai dengan penampung yang dimaksud," kata Lukman. Bagaimana pun, sambung dia,  skema maupun teknis penanganan banjir rob nanti, warga Muaragembong saat ini terus menanti perbaikan nyata secara menyeluruh.

Jeritan warga sudah sepantasnya segera diakhiri melalui upaya optimal pemerintah dan semoga musibah ini tidak berulang di kemudian hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement