Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Aktivis Palestina Kayed Fasfous Dibebaskan Israel

Senin 06 Dec 2021 13:54 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Penjara Israel (ilustrasi)

Penjara Israel (ilustrasi)

Foto: EPA/Oliver Weiken
Kayed Fasfous sempat melakukan mogok makan selama 131 hari.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Pihak berwenang Israel membebaskan seorang tahanan Palestina, Kayed Fasfous, pada Ahad (5/12). Pembebasan dilakukan dua minggu setelah kesepakatan yang mengakhiri mogok makan selama 131 hari.

Kelompok Tahanan Palestina, sebuah kelompok yang mewakili mantan tahanan dan tahanan, mengkonfirmasi bahwa Fasfous telah kembali ke rumahnya di Tepi Barat. Dia tiba melalui pos pemeriksaan militer di dekat kota selatan Hebron pada Ahad sore.

Baca Juga

Rekaman daring menunjukkan mantan tahanan itu duduk di kursi roda dan merayakan kepulangannya ke kampung halamannya di selatan Dura. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit di kota Ramallah, Tepi Barat.

Fasfou tetap berada di rumah sakit Israel sejak mengakhiri pemogokannya pada 23 November. Dia adalah tokoh simbolis dari enam pemogok makan yang memprotes kebijakan kontroversial Israel tentang penahanan administratif, yang memungkinkan tersangka ditahan tanpa batas waktu tanpa tuduhan.

Israel mengatakan, kebijakan administratif diperlukan untuk menjaga tersangka berbahaya dikurung tanpa mengungkapkan informasi sensitif yang dapat mengekspos sumber-sumber berharga. Palestina dan kelompok hak asasi menilai praktik tersebut menyangkal hak proses hukum.

Kebijakan Israel itu justru memungkinkan menahan tahanan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tanpa melihat bukti yang memberatkan. Terlebih lagi hukum seperti itu jarang diterapkan pada orang Israel sendiri. Kelompok hak-hak tahanan Palestina,  Addameer, menyatakan sekitar 500 dari 4.600 warga Palestina yang ditahan oleh Israel ditahan dalam penahanan administratif. 

Nasib enam pemogok makan memicu demonstrasi solidaritas di Tepi Barat dan Gaza yang diduduki Israel pada November. Peristiwa itu meningkatkan tekanan pada Israel untuk membebaskan para tahanan.
Sebanyak empat dari lima pemogok makan lainnya telah mengakhiri protes setelah mencapai kesepakatan serupa dengan pihak berwenang Israel. Mereka diharapkan akan dibebaskan dalam beberapa bulan mendatang.

Aksi mogok makan adalah hal biasa di antara para tahanan Palestina dan telah membantu mengamankan banyak konsesi dari otoritas Israel. Pemogokan ini bervariasi dari individu yang memprotes penahanan tanpa tuduhan hingga kelompok yang menyerukan perbaikan kondisi sel.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA