Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Iran Geram Israel Campur Tangan Pembicaraan Nuklir Wina

Sabtu 04 Dec 2021 14:15 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi tiba pada konferensi pers pertamanya setelah memenangkan pemilihan presiden, di Teheran, Iran, 21 Juni 2021. Raisi mengatakan bahwa pemerintahnya akan mengikuti negosiasi nuklir dengan kekuatan dunia tetapi tidak untuk waktu yang lama, menambahkan bahwa AS harus mencabut sanksi dan kembali ke kesepakatan JCPOA.

Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi tiba pada konferensi pers pertamanya setelah memenangkan pemilihan presiden, di Teheran, Iran, 21 Juni 2021. Raisi mengatakan bahwa pemerintahnya akan mengikuti negosiasi nuklir dengan kekuatan dunia tetapi tidak untuk waktu yang lama, menambahkan bahwa AS harus mencabut sanksi dan kembali ke kesepakatan JCPOA.

Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Iran mengecam Israel karena turut campur dalam pembicaraan nuklir di Wina

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN - Iran mengecam Israel karena turut campur dalam pembicaraan nuklir yang tengah berlangsung di Wina. Hal tersebut diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh dalam cicitannya di akun resmi Twitternya, Jumat (3/12) waktu setempat.

"Ketika #ViennaTalks maju, rezim Israel menunjukkan warna aslinya lagi, menyerukan penghentian segera negosiasi," cicit Khatibzadeh seperti dikutip laman Fars News, Sabtu (4/12).

Baca Juga

Dia menyinggung secara khusus pernyataan perdana menteri Israel untuk segera menghentikan pembicaraan Wina. "Tidak mengherankan. Dialog selalu dibenci oleh rezim yang asal-usulnya didasarkan pada perang, ketegangan, dan teror," kata Khatibzadeh.

Dia juga menegaskan delegasi di Wina tidak akan mengambil instruksi dari Beit Aghion (kantor rezim Israel). Dalam sambutan yang relevan pada Rabu (1/12) lalu, Khatibzadeh memperingatkan upaya rezim Israel untuk meracuni pembicaraan Wina dan mencegah kemajuannya.

"Rezim Israel yang keberadaannya bergantung pada ketegangan kembali melakukannya, meneriakkan kebohongan untuk meracuni pembicaraan Wina," tulis Khatibzadeh di akunTwitternya, Rabu.

Dia mendesak pihak-pihak yang berunding di Wina untuk tidak membiarkan penilaian mereka dikaburkan oleh provokasi dan propaganda Israel. "Semua pihak di ruangan itu sekarang menghadapi ujian independensi & kemauan politik mereka untuk melaksanakan pekerjaan itu—terlepas dari berita palsu yang dirancang untuk menghancurkan prospek kesuksesan," kata juru bicara itu.

Putaran ketujuh pembicaraan dimulai di ibu kota Austria pada Senin (30/11) pekan ini. Tepat pada malam negosiasi, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan pihaknya sangat khawatir tentang kesiapan untuk menghapus sanksi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA