Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

PPKM Diprediksi tidak Berpengaruh pada Pariwisata

Kamis 02 Dec 2021 23:41 WIB

Red: Nora Azizah

Pengunjung berswafoto di objek wisata Watu Rumpuk Desa Mendak, Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Pengunjung berswafoto di objek wisata Watu Rumpuk Desa Mendak, Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Foto: ANTARA/Siswowidodo
Trafik wisata juga diprediksi akan kembali naik setelah PPKM Level tiga diterapkan.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) memprediksikan rencana penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level tiga tidak mengganggu sektor pariwisata. "Justru masyarakat memanfaatkan momen sebelum pembatasan itu, seperti yang terlihat travel atau hotel di Jogja saat ini full, pemerintah dan perusahaan melakukan serapan anggaran juga di minggu-minggu ini hingga pertengahan Desember," kata Wakil Ketua Asita Jawa Tengah Daryono di Solo, Kamis (2/12).

Oleh karena itu, ia menyakini periode libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 tidak mengganggu niat masyarakat untuk berwisata dan penerapan PPKM level tiga akan berjalan lancar. "Memang ini agak terpengaruh bagi teman-teman yang jualan paket untuk akhir tahun, karena libur akhir tahun ini kan tidak terprediksi sebelumnya, ini akan stuck," katanya.

Baca Juga

Meski demikian, ia memperkirakan kenaikan trafik pariwisata akan kembali terjadi usai libur tahun baru di mana sebetulnya pada saat itu menjadi low season bagi sektor ini.

"Januari-Maret kan biasanya low season, harapannya di awal Februari dan selanjutnya jadi momentum bagus. Hotel dan wisata bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala dan bisa meningkat lagi omzetnya," katanya.

Termasuk untuk tingkat hunian hotel, ia berharap agar usai pemberlakuan PPKM level tiga, kondisinya bisa kembali seperti saat ini.  Untuk okupansi hotel sendiri, pihaknya mencatat beberapa waktu terakhir ini terjadi kenaikan hingga 95 persen. 

Sementara itu, semenjak adanya pandemi COVID-19, pihaknya melihat terjadi pergeseran kebutuhan wisatawan, terutama terkait keselamatan diri. Bahkan, sebagian di antaranya rela membayar lebih mahal untuk memperoleh fasilitas tersebut.

"Untuk bisa safety mereka berani bayar. Oleh karena itu, harapannya agar pelaku wisata ini bagaimana mengemas pariwisata agar lebih safety. Kami sarankan ke anggota untuk memastikan sisi safety, jangan sampai terjadi klaster baru, kenyamanan diutamakan khususnya safety," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA