Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Studi Awal Temukan Omicron Sebabkan Gejala Ringan

Rabu 01 Dec 2021 15:41 WIB

Red: Indira Rezkisari

Seorang wanita memakai masker saat berjalan melewati merpati di London, Selasa, 30 November 2021. Dengan munculnya varian omicron, pemerintah Inggris mewajibkan orang untuk memakai masker di toko-toko dan di transportasi umum mulai Selasa.

Seorang wanita memakai masker saat berjalan melewati merpati di London, Selasa, 30 November 2021. Dengan munculnya varian omicron, pemerintah Inggris mewajibkan orang untuk memakai masker di toko-toko dan di transportasi umum mulai Selasa.

Foto: AP/Kirsty Wigglesworth
Beberapa pasien positif Omicron memiliki gejala berbeda dengan varian Delta.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Antara, Nawir Arsyad Akbar

Varian baru Covid-19, yakni omicron atau B.1.1.529, bisa menyerang siapa saja, termasuk kaum muda. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama, merujuk studi awal varian ini, mengatakan keluhan infeksinya bisa lebih ringan dibanding kelompok usia lainnya.

Baca Juga

Tjandra mengatakan, Rabu (1/12), dari laporan awal studi menunjukkan kaum muda cenderung keluhannya lebih ringan, tapi kepastian dampak berat varian omicron baru akan ada dalam beberapa hari atau minggu ke depan. Menurut Tjandra yang pernah menjabat sebagai direktur WHO Asia Tenggara, semua varian Covid-19 sejauh ini dapat menimbulkan penyakit berat dan kematian, terutama pada kelompok rentan, seperti lansia, komorbid, gangguan imunitas, dan lainnya.

Masyarakat disarankan tetap waspada dan melakukan pencegahan dengan menerapkan protokol kesehatan 3M dan vaksinasi ditambah upaya 3T dari pemerintah. Lebih perinci lagi, disarankan tetap menjaga jarak fisik minimal satu meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai, menjaga tangan tetap bersih, menerapkan etika batuk atau bersin ke siku atau tisu.

Terkait keluhan akibat infeksi, dokter di Midrand, Johannesburg, Unben Pillay, dalam briefing yang diadakan Departemen Kesehatan Afrika Selatan pada Senin (29/11) berpendapat, pasien umumnya mengalami gejala ringan. Yaitu, batuk kering, demam, keringat pada malam hari, dan nyeri tubuh.

"Orang yang divaksinasi cenderung lebih baik (kondisinya)," kata dia, seperti dilansir dari the Guardian.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, Dr Angelique Coetzee, menuturkan, ada tujuh pasien di kliniknya yang memiliki gejala berbeda dari varian delta. Pasien merasakan kelelahan yang luar biasa, ditambah nyeri otot ringan, tenggorokan gatal, dan batuk kering.

Coetzee sudah melihat pasien dengan gejala tersebut sejak pertengahan November lalu, yang menurut dia relatif berbeda dari tipikal Covid-19. Menurut dia, gejala ini dialami seorang pasien laki-laki berusia sekitar 33 tahun.

Sang pasien berkata padanya sangat lelah selama beberapa hari terakhir dan merasakan sakit dan nyeri di tubuhnya dengan sedikit sakit kepala. Alih-alih sakit tenggorokan, pasien pertama Coetzee itu merasa tenggorokannya gatal, tetapi tidak batuk atau kehilangan indra perasa atau penciuman.

Hasil tes menunjukkan dia dan keluarganya positif Covid-19. Meskipun mungkin diperlukan beberapa minggu sebelum hadirnya jawaban pasti mengenai sifat ancaman yang ditimbulkan omicron, bukti awal memperlihatkan vaksin menawarkan setidaknya beberapa perlindungan.

WHO masih mempelajari dampak potensial varian terhadap vaksin. Kendati begitu, menurut WHO, vaksin tetap penting untuk mengurangi risiko keparahan penyakit dan kematian, termasuk melawan varian dominan yang beredar saat ini seperti delta.

Dokter dari National Institute for Communicable Diseases Wassila Jassat mengatakan, kasus ini terjadi pada 87 persen pasien di rumah sakit kota Tshwane, Afrika Selatan, lokasi omicron terdeteksi termasuk mereka yang tidak divaksinasi. Berdasarkan usia pasien, Kepala Unit Intensif di Chris Hani Baragwanath, Soweto, Rudo Mathivha mengungkapkan orang-orang muda, yakni berusia 20 tahunan hingga akhir 30 tahunan dirawat dengan penyakit sedang hingga berat dan beberapa membutuhkan perawatan intensif.

"Sekitar 65 persen belum divaksinasi dan sebagian besar sisanya hanya setengah divaksinasi (satu dosis)," ujar dia.

Terkait kemungkinan infeksi ulang, data awal memperlihatkan, infeksi varian omicron meningkatkan risiko infeksi ulangan, yakni seseorang yang sudah sakit dan sembuh kemudian jatuh sakit lagi. Kemudian mengenai penularan, hingga kini belum jelas apakah varian ini memang lebih mudah menular dibanding varian lain, termasuk delta.

Namun, jumlah orang yang positif varian ini terus meningkat di Afrika Selatan dan perlu studi epidemiologi mendalam. Kemudian, terkait efektivitas pengobatan, sesuai dengan Pedoman Pengobatan WHO tanggal 24 November 2021, kortikosteroid dan IL6 Receptor Blockers masih tetap efektif untuk menangani pasien Covid-19 yang berat dan parah. Walau begitu, perlu analisis lebih lanjut tentang kemungkinan dampaknya pada varian omicron.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA