Friday, 18 Jumadil Akhir 1443 / 21 January 2022

Begini Strategi BI Pulihkan Ekonomi di Priangan Timur

Rabu 01 Dec 2021 07:55 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Friska Yolandha

Pekerja merawat tanaman sayuran jenis bayam merah di Kampung Gunung Ranji, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (2/9). BI Tasikmalaya menyampaikan strategi untuk pemulihan ekonomi.

Pekerja merawat tanaman sayuran jenis bayam merah di Kampung Gunung Ranji, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (2/9). BI Tasikmalaya menyampaikan strategi untuk pemulihan ekonomi.

Foto: ANTARA/ADENG BUSTOMI
Diperlukan dynamic balancing strategy dalam mengatur gas dan rem ekonomi daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya melakukan deklarasi pemulihan ekonomi pada 2022 bersama lima kepala daerah di Priangan Timur, Selasa (30/11). Dalam deklarasi itu, BI Tasikmalaya menyampaikan strategi untuk pemulihan ekonomi.

Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya, Darjana, mengatakan, diperlukan dynamic balancing strategy, yang merupakan bagian dari kebijakan pemerintah daerah dalam mengatur gas dan rem ekonomi daerah melalui penetapan PPKM Level. Strategi itu juga harus didukung dengan pencapaian vaksinasi dan kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes).

Baca Juga

"Pada 2022 insya Allah ekonomi kita bisa pulih, meski harus tetap hati-hati (terhadap pandemi Covid-19)," kata dia, Selasa.

Strategi kedua, lanjut dia mendorong konsumsi masyarakat dengan melanjutkan program bantuan sosial kepada masyarakat. Ketiga, akselerasi konsumsi masyarakat, khususnya menengah atas, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pelaksanaan agenda kegiatan strategis di Priangan Timur.

Selain itu, Darjana menambahkan, perlu dilakukan peningkatan Digitalisasi, Local Value Chain untuk UMKM dan ekspor yang didukung sumber pembiayaan ekonomi kreatif. Hal itu juga perlu didukung oleh kelancaran sistem pembayaran yang berdampak bagi perekonomian lokal secara langsung.

Kelima, harus diupayakan untuk meningkatkan realisasi investasi di Priangan Timur melalui pelaksanaan berbagai kegiatan yang dapat  mendorong investasi Priangan Timur. Terakhir, mengoptimalisasi Forum Ekonomi Priangan Timur sebagai wadah sinergi dan kolaborasi.

Darjana mengatakan, apabila seluruh pihak berkomotmen, perekonomian di wilayah Priangan Timur akan bangkit dan pulih pada 2022. "Kita optimistis bisa lebih cepat dari wilayah lain, karena kita merupakan produsen di sektor pertanian. Warga kita juga banyak yang bekerja di sektor pertanian. Artinya, kita lebih punya daya tahan terhadap pandemi," kata dia.

Pertanian dinilai merupakan sektor ekonomi dengan kredit yang bertumbuh paling tinggi, mencapai 41,26 persen pada Oktober 2021. Di sisi lain, kredit untuk sektor perdagangan secara nominal mendominasi penyerapan kredit. Menurut Darjana, itu menunjukkan perbankan memiliki peran strategis dan penting pada pembiayaan sektor ekonomi unggulan di Priangan Timur.

Selain pertanian, mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan, BI Tasikmalaya juga akan mengembangkan sektor perikanan maritim dan pariwisata. "Lalu ada tambahan green economy (energi baru dan terbarukan)," kata Darjana.

Ia memproyeksikan, pada 2021, pertumbuhan ekonomi di Priangan Timur ada di atas rata-rata Jawa Barat (Jabar) dan nasional. Dengan pertimbangan, sektor pertanian menjadi tumpuan utama.

Sementara pada 2022, pertumbuhan ekonomi di Priangan Timur akan ada di angka yang sama dengan nasional, tapi di bawah Jabar. "Karena tren sektor pertanian dari tahun ke tahun menurun. Ini tantangan tersendiri bagi kami untuk meningkatkan produktivitas, pembukaan sawah baru, digital farming, dan program yang bisa meningkatkan produksi sektor pertanian," kata dia.

Sektor pertanian memang salah satu yang tumbuh baik pada kuartal III 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan positif, yakni tumbuh sebesar 1,35 persen.

Secara umum, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan mencapai 4,7 persen-5,5 persen, dari 3,2 persen-4,0 persen pada tahun 2021. Optimisme ini didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekspor yang tetap kuat, serta meningkatnya permintaan domestik dari kenaikan konsumsi dan investasi. Hal ini didukung vaksinasi, pembukaan sektor ekonomi, dan stimulus kebijakan.

“Sinergi kebijakan yang erat dan kinerja perekonomian tahun 2021 menjadi modal untuk semakin bangkit dan optimistis akan pemulihan ekonomi Indonesia yang lebih baik pada tahun 2022. Penguatan sinergi dan inovasi ditujukan untuk menciptakan imunitas masal dari pandemi Covid-19 dan pembukaan kembali sektor ekonomi prioritas, mendorong pemulihan ekonomi dalam jangka pendek melalui kebijakan peningkatan permintaan, serta memperkuat pertumbuhan yang lebih tinggi dalam jangka menengah melalui kebijakan reformasi struktural," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, Rabu (24/11).

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA