Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

KPPPA: Persentase Anak Perempuan Alami Depresi Lebih Tinggi

Sabtu 27 Nov 2021 08:12 WIB

Red: Ratna Puspita

Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Agustina Erni mengatakan, persentase anak perempuan yang mengalami depresi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. (ilustrasi).

Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Agustina Erni mengatakan, persentase anak perempuan yang mengalami depresi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Kecenderungan terjadinya depresi anak makin meningkat saat masa pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Agustina Erni mengatakan, persentase anak perempuan yang mengalami depresi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Kondisi ini semakin meningkat saat masa pandemi Covid-19.

"Sebelum masa pandemi ini tidak terlalu mencolok, yaitu masalah kecenderungan terjadinya depresi atau isu kesehatan mental anak. Persentase anak perempuan dengan gejala yang mengarah pada depresi itu lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki," kata Agustina Erni dalam Rapat Koordinasi Asuh Siaga untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang diikuti di Jakarta, Jumat (26/11).

Baca Juga

Erni mengatakan, berdasarkan survei pada 2020, menunjukkan 13 persen anak mengalami depresi yang berkategori ringan hingga berat. Dari data tersebut, empat persen mengalami depresi ringan, delapan persen depresi sedang dan satu persen mengalami depresi berat.

"Sebanyak 42 persen itu mengalami gejala emosi. Ini yang paling banyak dirasakan, seperti mereka gampang merasa sedih, mudah marah dan sebanyak 41 persen itu ada gejala kognitif seperti menyalahkan diri sendiri, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik," tuturnya.

Tak hanya berdampak secara mental, masa pandemi Covid-19 juga berdampak pada kesehatan fisik anak. Pada beberapa sekolah yang telah menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM), terdapat anak-anak yang matanya mengalami rabun jauh.

"Ada anak yang setelah masuk sekolah, matanya terganggu jadi dia tidak bisa lagi duduk-duduk di belakang kelas. Dia tidak bisa lihat papan tulis di depan sehingga harus maju ke depan untuk bisa melihat papan tulis," kata Erni.

Ia memperkirakan gangguan kesehatan mata anak ini terjadi karena mereka banyak bermain gawai selama pandemi. "Mungkin karena banyak bermain dengan gadget ya," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA