Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

Disclose: Mesir Salah Gunakan Dokumen Intelijen Prancis

Rabu 24 Nov 2021 14:18 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer (kanan) dan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer (kanan) dan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly.

Foto: EPA-EFE/PHILIPP GUELLAND
Dokumen intelijen ini diyakini dijadikan informasi untuk melancarkan pengeboman.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Menteri Pertahanan Perancis, Florence Parly menyerukan penyelidikan terkait kebocoran data intelijen rahasia yang disalahgunakan oleh Mesir. Situs  investigasi Disclose, melaporkan transaksi rahasia antara Paris dan Kairo.

Situs Disclose menerbitkan puluhan dokumen rahasia intelijen Prancis yang diberikan kepada Mesir. Dokumen tersebut diserahkan oleh tim intelijen yang terdiri dari empat tentara Prancis dan enam mantan personel militer.

Baca Juga

Tim tersebut dikirim ke Mesir dalam sebuah misi dengan nama sandi Operasi Sirli pada  2016.  Pada saat itu, militer Prancis sedang melakukan penerbangan pengintaian di Libya. Ketika itu pejuang ISIS masih aktif dan Prancis khawatir pengaruh mereka dapat menyebar.

Disclose mengatakan, setidaknya 19 pengeboman terhadap warga sipil terjadi antara 2016 hingga 2018. Pengeboman ini terkait dengan dokumen intelijen Prancis yang diberikan ke Kairo. Prancis mengatakan, informasi mereka telah disalahgunakan oleh Mesir untuk melakukan pengeboman yang menewaskan warga sipil.

Kementerian Pertahanan mengatakan, Mesir adalah mitra Perancis. Sejauh ini Prancis menjaga hubungan di bidang intelijen dan perang melawan terorisme. “Selain itu, menteri pertahanan telah menuntut agar penyelidikan dilakukan terhadap informasi yang disebarluaskan oleh Disclose,” ujar pernyataan Kementerian Pertahanan Perancis.

Menurut Disclose, tim intelijen Prancis yang didampingi oleh seorang perwira Mesir mendengarkan percakapan tingkat tinggi secara langsung.  Disclose mengatakan, tim Prancis dengan cepat menyadari bahwa ancaman teroris sangat minim.

Mesir menyalahgunakan informasi yang didapatkan untuk menargetkan penyelundupan manusia, penyelundupan barang seperti rokok dan makanan hingga senjata dan obat-obatan.

Satu catatan rahasia yang diterbitkan pada 22 Januari 2019 yang ditujukan kepada Menteri Angkatan Bersenjata Florence Parly menjelang kunjungan Macron ke Mesir, mengatakan, ada kasus penghancuran target yang terdeteksi oleh pesawat Prancis. Penting untuk mengingatkan Mesir bahwa, pengintaian pesawat bukanlah alat penargetan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA