Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Tiga Negara yang Berpotensi Pimpin Dunia Islam

Senin 15 Nov 2021 22:10 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

Tiga Negara yang Berpotensi Pimpin Dunia Islam. Foto:  iLUSTRASI SUNSET, MENARA MASJID, ILALANG, SILUET

Tiga Negara yang Berpotensi Pimpin Dunia Islam. Foto: iLUSTRASI SUNSET, MENARA MASJID, ILALANG, SILUET

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Muslim Indonesia memiliki kekhasan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol, Muhammad Najib, menyampaikan bahwa ada tiga negara yang berpotensi memimpin dunia Islam menurut para ilmuwan dan pengamat. Di antaranya Indonesia, Turki dan Iran.

"Saya banyak sekali mendengar baik dari ilmuwan atau pengamat dunia Islam yang berasal dari dunia Islam sendiri maupun yang berasal dari barat, mereka tidak melihat bendera Islam bisa dikibarkan oleh bangsa Arab saat ini, paling tidak sampai pada waktu dekat mendatang," kata Najib saat menjadi narasumber Seminar Nasional Moderasi Indonesia Untuk Dunia bertema "Peran Strategis Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam Mendukung Kepemimpinan Indonesia di Tingkat Global" pada Senin (15/11).

Baca Juga

Menurutnya, para ilmuwan dan pengamat melihat yang berpotensi untuk memimpin dunia Islam adalah negara-negara non Arab. Ada tiga negara yang disebutkan, di antaranya Turki, Iran dan Indonesia.

Akan tetapi, dia menjelaskan, Turki dan Iran terlalu banyak menggunakan hard power atau sering menggunakan senjata untuk menyelesaikan masalah. Mungkin ini tidak terhindarkan karena mereka berada di kawasan yang panas, sehingga mereka banyak memiliki musuh.

"Banyak orang yang gentar, banyak orang yang gemetar, banyak orang yang khawatir kalau Turki atau Iran memimpin dunia Islam," ujar Najib dalam seminar nasional yang digelar Amanat Institute dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Ia menegaskan, kalau Indonesia memimpin dunia Islam, semuanya welcome, karena Indonesia yang sangat konsisten membela Palestina itu tidak pernah menggunakan hard power. Indonesia selalu menggunakan soft power diplomacy, sehingga semuanya senang.

Menurutnya, semua negara Muslim senang dengan Indonesia, termasuk negara-negara non Muslim tidak pernah khawatir dengan Indonesia.

"Inilah yang saya maksudkan dan sebagai sebuah momentum, kesempatan kita untuk menyelamatkan wajah dunia Islam di pentas global dan kesempatan Indonesia bangsa Indonesia dan posisinya memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia sebagaimana amanat di dalam undang-undang," ujarnya.

Ia mengatakan, bagi yang beragama Islam, menyelamatkan wajah dunia Islam di pentas global adalah amal soleh yang luar biasa. Kalau sholat, zakat, haji, puasa dan sebagainya itu semua orang bisa melakukannya. Tapi untuk berperan melakukan peran-peran di kancah global, ini hanya bisa dilakukan orang-orang istimewa, baik karena kapasitas personalnya maupun karena posisinya di pemerintahan atau di perguruan tinggi.

"Saya ingin mengajak dan saya kira tidak berlebihan, harapan dunia Islam maupun barat pada Indonesia untuk mengambil peran besar pada saat ini dan ke depan, apalagi kita ditopang dengan peran Indonesia sebagai Presidensi G20," ujarnya.

Di seminar yang sama, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, mengatakan, sesungguhnya Indonesia dan Muhammadiyah punya peran penting bahkan strategis. Peran ini menjadi harapan banyak pihak untuk Indonesia bisa berperan lebih besar lagi.

Mu’ti menceritakan, pernah mewakili delegasi Indonesia bersama Kementerian Luar Negeri di Mesir untuk menjadi pembicara di seminar tentang transisi demokrasi pengalaman Indonesia dan Mesir. Di awal ceramah diawali dengan menjelaskan tentang Muhammadiyah yang memiliki ribuan amal usaha.

"Pada sesi tanya jawab ada seorang profesor (dari Universitas Kairo) yang bertanya ke saya, anda ini bukan pemerintah, jadi untuk apa anda mendirikan sekolah, rumah sakit dan panti asuhan, itu kan tugas negara bukan tugas masyarakat sipil," kata Mu'ti.

Ia menjelaskan, pertanyaan itu menunjukan Indonesia memiliki kekhasan yang tidak dimiliki negara Muslim lainnya. Memang kalau dilihat hanya di Indonesia ormas memiliki kontribusi yang besar di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial.

Mu'ti mengatakan, pengalaman dan kontribusi Muhammadiyah yang bagi masyarakat Indonesia sebagai hal biasa. Tapi bagi negara lain itu sesuatu yang aneh bahkan di mata seorang profesor.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA