Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Terapkan Teknologi AI dalam Layanan Kesehatan Masa Kini

Rabu 10 Nov 2021 03:06 WIB

Red: Hiru Muhammad

Layanan kesehatan publik dituntut lebih mampu beradaptasi dengan teknologi modern era Revolusi Industri 4.0. Ini menjadi salah satu solusi, seperti pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di rumah sakit. Tampak penandatanganan  kerja sama Arogya. AI dengan RSUI dan ILUNI UI di RSUI Depok, Jawa Barat.

Layanan kesehatan publik dituntut lebih mampu beradaptasi dengan teknologi modern era Revolusi Industri 4.0. Ini menjadi salah satu solusi, seperti pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di rumah sakit. Tampak penandatanganan kerja sama Arogya. AI dengan RSUI dan ILUNI UI di RSUI Depok, Jawa Barat.

Foto: istimewa
Teknologi AI mampu mendukung manajemen supply chain memaksimalkan administrasi

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK-- Pandemi Covid-19 telah mendorong perubahan layanan bisnis barang dan jasa kian cepat dan tepat lantaran penggunaan teknologi digital atau online. Tak terkecuali layanan kesehatan yang menjadi sorotan publik terutama setelah merebaknya wabah Covid-19. Di sisi lain, kompleksitasnya semakin  tinggi supaya bisa melayani dan mengobati pasien dengan baik. Pandemi sejatinya telah menguji kapasitas seluruh sumber daya layanan kesehatan di Indonesia.  

Layanan kesehatan publik dituntut lebih mampu beradaptasi dengan teknologi modern era Revolusi Industri 4.0. Ini menjadi salah satu solusi, seperti pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di rumah sakit. Negara yang mampu mengelola dan keluar lebih cepat dari krisis kesehatan global memaksimalkan penggunaan teknologi modern termasuk di pusat layanan kesehatan seperti rumah sakit. 

Perusahaan teknologi AI karya anak bangsa, Arogya.ai, lahir untuk mendorong peningkatan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di rumah sakit Indonesia.  " Kami hadir menawarkan optimalisasi management supply chain layanan kesehatan di Indonesia. Seperti order manager, inventory manager dan h-commerce yang merupakan AI supply chain layanan kesehatan pertama  dan diciptakan di Indonesia untuk  layanan kesehatan Indonesia yang lebih baik," kata Victor Fungkong, Founder dan CEO Arogya.ai, dalam keterangan tertulisnya akhir pekan lalu di sela  penandatanganan  kerja sama Arogya. AI dengan RSUI dan ILUNI UI di RSUI Depok, Jawa Barat.

Menurut Victor, Presiden Joko Widodo pada 2018 pernah menyampaikan agar rumah sakit bisa membangun sistem yang terintegrasi dan menjadi smart hospital, yang memanfaatkan teknologi inovatif secara ekstensif untuk meningkatkan kualitas perawatan dan pengalaman pasien sekaligus mengurangi biaya.  Dalam konteks smart hospital itu, teknologi AI mampu mendukung manajemen supply chain memaksimalkan administrasi dan operasional rumah sakit. Apalagi betapa vitalnya supply chain dalam sistim pelayanan rumah sakit. 

Riset Cardinal Health Survey tentang supply chain rumah sakit menyebutkan, 65 persen responden mengakau mengalami kejadian dokter terpaksa menunda prosedur operasi karena ketidaktersediaan obat dan atau alat medis yang dibutuhkan karena sistem purchasing kurang optimal.  "Kita juga melihat  arus kas rumah sakit dipengaruhi perputaran stok obat-obatan dan peralatan medis. Semakin cepat perputaran stok, semakin lancar arus kas rumah sakit,"katanya. 

Namun, sering kali purchasing rumah sakit melakukan proyeksi kebutuhan obat-obatan dan peralatan medis berdasarkan analisis statis, bukan analisis dinamik. Akibatnya, proyeksinya kurang akurat dan mengakibatkan overstock/understock. Dengan sistem order dan inventory management berbasis AI, managemen rumah sakit sangat dibantu untuk dapat membuat keputusan pemesanan dan pembelian stok obat-obatan serta peralatan medis dengan akurat.

Direktur Utama  RSUI DR. dr. Astuti Giantini Sp. PK (K), MPH menyambut baik kerja sama dengan perusahaan teknologi Arogya.ai. Sebab pentingnya penggunaan teknologi untuk mendukung manajeman rumah sakit dalam meningkatkan layanan kesehatan. "Dukungan ini tidak hanya untuk masa pandemi, tapi berlanjut hingga masa post-pandemic. Untuk itu, kami sangat mengapreasiasi hadirnya inovasi pemanfaatan teknologi AI di RSUI," kata dr. Astuti.

Teknologi AI menghadirkan sistem yang terintegrasi dan lebih efisien.  Mulai dari supply chain hingga administrasi, sehingga diharapkan teknologi ini dapat menekan biaya operasional yang lebih besar. "Ini juga menjadi langkah kesiapan RSUI untuk menjadi rumah sakit yang menerapkan digitalisasi di Indonesia guna mendukung Universal Health Coverage (UHC)," ujarnya.

Andre Rahadian, Ketua Umum ILUNI UI, berpendapat inovasi teknologi di bidang kesehatan merupakan salah satu titik perhatian ILUNI. Sebab teknologi memiliki kekuatan besar untuk membantu tugas rumah sakit dan nakes di tengah pandemi. "Dengan semangat 'Sinergi Temu', melalui Center ILUNI 4.0, kami mencoba merangkul Arogya.ai, perusahaan milik alumnus UI, yang diharapkan mampu mengembangkan RSUI sebagai rumah sakit pendidikan," ujar Andre.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA