Ahad 14 Nov 2021 08:23 WIB

Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam

Mencintai Rasulullah shallal­lahu ‘alaihi wasallam merupakan perintah Allah Subhaanah

Rep: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)/ Red: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)
Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam - Suara Muhammadiyah
Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam - Suara Muhammadiyah

Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam

Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiyana

Pada tiap bulan Rabi’ul Awwal sebagian umat Islam In­donesia mengadakan peringatan  Maulid Nabi shallal­lahu ‘alaihi wasallam  dengan berbagai kegiatan sebagai wu­jud rasa cintanya. Di an­tara kegiatan tersebut adalah mem­baca kitab Barzanji. Kitab ini sangat masyhur di kalangan sebagian umat Islam Indonesia pada tiap bulan Rab’ul Awwal. Bahkan, pada tanggal 1-12 bulan itu, kitab itu sepertinya jauh lebih utama dibaca daripada Alquran. Bagi mereka kegiatan itu adalah ibadah karena melaku­kannya dalam rangka mencintai Rasulullah shallal­lahu ‘alaihi wasallam dan sudah menjadi pemahaman umum bahwa mencintai Rasulullah shallal­lahu ‘alaihi wasallam merupakan perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Sayang, di antara mereka banyak yang sama sekali tidak memahami isinya sehingga tidak mengetahui sesuai tidaknya dengan akidah. Bahkan, mereka tidak mengetahui juga apakah kegiatan itu memang bernilai ibadah atau sekadar tradisi. Ada di antara mereka tiap bulan Rai’ul Awwal selalu membaca kitab itu secara berjamaah di masjid atau musala, tetapi dari tahun ke tahun tidak ada perkembangan dalam mengerjakan ibadah.

Mereka belum menjadikan salat berjamaah sebagai bagian dari wujud cintanya pada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya. Malahan, ada juga di antara mereka yang baru menger­ja­kan salat wajib saja. Itu pun jarang dikerjakan secara berjamaah, apalagi berjamaah di masjid atau musala. Kalaupun berjamaah di masjid atau musala, mereka hadir ketika hampir iqamah atau  bersamaan dengan iqamah. Pertanyaan yang timbul adalah benarkah amalan yang demikian merupakan bukti cinta pada Rasulullah shallal­lahu ‘alaihi wasallam?

Kita wajib mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena demikianlah perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagaimana terdapat di dalam surat Taubah (9): 34.

“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, har­ta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Na, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Di dalam ayat tersebut, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mewajibkan kita agar lebih mencintai-Nya dan mencintai Nabi Muhammaad shallallahu ‘alaihi wasallam daripada mencintai bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan, rumah-rumah tempat tinggal. Dalam hubungannya dengan mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dari HR al-Bukhari, Muslim, dan Nasai dapat kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.”

Nah, bagaimana kita mewujudkan cinta pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Wujud cinta kita pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dijelaskan di dalam Alquran dan hadis. Tambahan lagi, para sahabat; juga ulama saleh terdahulu telah memberikan contoh terbaik. Dengan kata lain, kita tidak perlu mewujudkan cinta kepadanya dengan mengikuti selera kita masing-masing. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala misalnya di dalam su­rat Ali ‘Imran (3): 31

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan meng­am­puni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di dalam ayat tersebut, yang dimaksud aku adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, bukti bahwa kita mencintai Allah Subhaanahu wa Ta’aala, adalah meng­ikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selanjutnya, di dalam surat yang sama pada ayat 32 Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Katakanlah, “Hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Namun, jika kamu berpaling, maka sesung­guhnya Allah tidak suka kepada orang yang kafir.”

Berdasarkan ayat itu, diketahui bahwa umat Islam dipertintah agar menaati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Agar lebih lengkap, kita perlu memperhatikan juga firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala di dalam surat al-Ahzah (33): 56

“Sesungguhnya, Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya  bershalawat untuk Nabi. Hai, orang-oang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan ke­padanya.”

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, secara garis besar, ada tiga amalan yang harus kita lakukan sebagai bukti bahwa kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu (1) mengikuti dan menaati, (2) ber-shalawat, dan (3) mengucapkan salam penghormatan kepadanya. Apa yang dimaksud “mengikuti dan menaati?” Ten­tu, melaksanakan perintah, mengikuti contohnya, dan meninggalkan larangannya, baik dalam hal akhlak, akidah, ibadah, maupun muamalah duniawiyah. Lalu, bagaimana kita ber-shalawat? Meng­ucapkan lafal shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan tuntunannya! Ada shalawat yang pendek dan ada shalawat yang pan­jang isinya. Contoh shalawat pendek yang terdapat dalam hadis an-Nasa’i dari Zaid Ibnu Kharifah:

Mencintai<a href= Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam" title="Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam" width="362" height="73" data-recalc-dims="1" />

Contoh shalawat panjang yang terdapat di dalam hadis al-Bukhari dari Abu Sa’id Kaab bin Ujrah:

Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam

Begitulah tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam ber-shalawat. Shalawat tersebut dikenal sebagai shalawat Ibrahimiyah dan merupakan shalawat yang paling sempurna. Karena shalawat itu yang paling sempurna, seharusnya kita tidak perlu mengarang sendiri. Jika di antara kita ada yang mengarang shalawat dengan menambah kalimat, berarti menganggap shalawat itu belum sempurna. Jika melakukan tindakan  ini apakah tidak berarti menganggap atau merasa dirinya lebih sempurna? Berkenaan dengan itu, seharusnyalah kita mengucapkan shalawat sesuai dengan tuntunan.

Kapan kita ber-shalawat? Di dalam buku Fatwa Tarjih Tanya Jawab Agama 6 hlm. 136, disebutkan ada 17 waktu kita ber-shalawat. Waktu-waktu itu adalah (1) sesudah azan, (2) ketika masuk ke masjid, (3) sesudah membaca tasyahud, (4) di dalam salat jenazah, (5) pada permulaan dan akhir atau penutup doa, (6) ketika hendak memulai suatu urusan penting, (7) pada akhir qunut, (8) pada malam Jumat, (9) di dalam khotbah, (10) sesudah bertalbiyah, (11) ketika berziarah ke kubur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, (12) ketika telinga mendenging, (13) tiap mengadakan majelis, (14) ketika kesusahan dan kegundahan, (15) tiap waktu pagi dan petang, (16) waktu berjumpa dengan sahabat dan handai tolan, dan (17) ketika orang menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana halnya dengan ucapan penghormatan yang harus kita amalkan? Para sahabat telah memberikan contoh yang sangat baik. Mereka selalu mengucapkan, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu” jika ditanya tentang sesuatu oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam meskipun perta­nyaan itu sangat sederhana dan mereka mengetahui jawabannya.

Kitab Barzanji berisi narasi kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Namun, penulis kitab itu menarasikannya dengan menambah  ”kreativitas imajinasinya” secara luar biasa se­hingga mampu memikat sebagian umat Islam. Tambahan lagi, dari segi bahasanya, bagi mereka pun indah

Di dalam kitab Berzanji terdapat narasi berikut ini.

”Tidak  ada Tuhan selain Allah. Mahasuci dan Mahaluhur Allah, yang telah menciptakan nur Muhammad dari cahaya-Nya sebelum Dia menciptakan Adam dari tanah liat. Dan Allah memper­lihatkan keagungan nur Muhammad kepada penghuni surga seraya berfirman, ”Inilah pemimpin para nabi yang paling agung di antara orang-orang pilihan, serta paling mulia di antara kekasih Allah.”

Di dalam narasi tersebut penulis kitab Barzanji (selanjutnya disebut penulis kitab) memuji Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan menyebut Allah Mahasuci dan Mahaluhur. Umat Islam wajib meyakini bahwa Allah mempunyai sifat Mahasuci dan Mahaluhur. Hujjah-nya dengan mudah dapat ditemukan, baik Alquran maupun hadis.  Narasi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang pilihan yang paling mulia adalah benar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman di dalam surat al-Waqi’ah (69): 77

”Sesungguhnya, Alquran itu adalah benar-benar wahyu  (Allah) yang diturunkan kepada Rasul yang mulia.”

Jelas di dalam ayat tersebut dinyatakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang mulia. Di dalam surat al-Ahzab (33): 21, beliau dinyatakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagai teladan.

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Namun, bagaimana halnya dengan narasi bahwa nur Muhammad telah diciptakan oleh Allah Yang Mahasuci dan Yang Mahaluhur dari cahaya-Nya sebelum Adam diciptakan-Nya dari tanah liat? Narasi tersebut perlu dikritisi. Tidak ada ayat dan/atau hadis yang dijadikan hujjah. Dengan kata lain, narasi itu merupakan hasil imajinasi seutuhnya dari penulis kitab Barzanji.

Sementara itu, narasi berikutnya adalah

“Aku ucapkan shalawat dan bahagia atas cahaya yang bersifat mula pertama, yang berpindah-pindah di ubun-ubun dahi-dahi yang mulia.”

Narasi tersebut dikritisi oleh Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah karena tidak ada ayat Alquan dan/atau hadis yang dapat dijadikan rujukan dan cukup banyak orang yang memahaminya bahwa nur atau cahaya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwujud sebelum ada wujud-wujud yang lain, dan adanya segala makhluk Allah karena nur Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu. Sikap kritis tersebut seharusnya dimiliki juga oleh ulama yang lain.

Narasi berikutnya yang dikritisi juga oleh tim tersebut adalah

“Dan ketika Allah Ta’aala menghendaki untuk menampakkan hakikat Muhammad yang terpuji, dan memunculkannya sebagai jasmani dan ruhani dalam bentuk yang semestinya, Dia memindahkannya ke dalam rahim ibunda Aminah az-Zuhriyyah, yang ditentukan Allah Yang Mahadekat dan Maha Memperkenankan, mengkhususkannya (Aminah) menjadi ibu makhluk pilihan-Nya.”

Narasi berikut ini dikritisinya juga. Pada intinya tim tersebut mempertanyakan dasar penulis kitab itu membuat narasi berikut.

“Dan ketika genap beliau dikandung sembilan bulan Qamariyyah menurut pendapat yang kuat, datanglah masa hilangnya haus. Pada malam kelahirannya, Aisyah dan Maryam datang kepada ibunya bersama sekelompok perempuan (bidadari) dari Hadhiratul Qudsiyyah. Lalu Aminah merasakan sakitnya orang yang mau melahirkan, kemudian ia melahirkan beliau dengan cahayanya yang cemerlang.”

Menurut tim, tidak ditemukan ayat dan/atau hadis yang menjadi hujjah penullis kitab Barzanji. Lagi pula, perlu kita pahami bagaimanakah sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerima pujian? Beliau menjelaskannya sebagaimana terdapat dalam hadis al-Bukhari yang ar­tinya, ”Janganlah kalian puji aku berlebih-lebihan, seba­gaimana kaum Nashrani me­mu­ji berlebih-lebihan ter­hadap (al-Masih) Ibnu Maryam. Namun, katakanlah aku (Muhammad) adalah hamba-Nya (Allah) dan pesuruh-Nya.”

 Kitab Sirah Nabawiyah karya Syekh Shafiyurrahman al-Mubarkafuri merupakan Juara I dalam lomba penulisan sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diadakan oleh Rabithah al-Alam al.-Islami Saudi Arabia. Penulis kitab ini menarasikan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam secara ilmiah populer. Ada catatan kaki sekadarnya dan sumber yang dirujuk ditulis di dalam teks. Hal itu dapat diketahui misalnya (1) pada paragraf pertama, untuk menyebutkan tanggal, bulan, dan tahun Masehi kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penulis kitab ini menyatakan, ”… berdasarkan hasil penelitian seorang ulama besar Sulaiman Al-Manshurfury dan seorang ahli ilmu falak, Mahmud Basya” dan (2) pada awal paragraf kedua, dia menyatakan

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan, ”Ketika aku melahirkannya keluar seberkas cahaya yang karenanya istana-istana di Syam tersinari.” Imam Ahmad dan Irbadh bin Sariyah meriwayatkan yang isinya serupa.

Jadi, pembaca tidak sekadar memperoleh informasi dari kedua paragraf itu, tetapi juga dapat melacak kebenarannya secara ilmiah. Informasi itu tidak ditambah dengan unsur “kreavitas imajinasi”.

Sementara itu, kitab Riwayat Lengkap Pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karya Al-Iman Al-Hafizh abu Isa At-Tirmidzi yang diterjemahkan oleh PABKIM Nasyrul Ulum dengan editor A. Chairan Marzuki, berisi narasi secara lengkap pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara pribadi beliau yang dinarasikan adalah warna dan bentuk tubuh, rambut, cara bersisir, semir rambut, celak mata, dan pakaiannya.  Penulis kitab itu selalu menyebutkan sumbernya secara lengkap tiap menarasikan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.  Dia selalu memulai narasinya dengan kalimat ”Hadatsanaa …”

Untuk mewujudkan rasa cinta kita pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,  dalam hal apa pun kita wajib mengikuti dan menaatinya. Dengan demikian, semestinya kita melaksanakan semua yang diperintahkannya dan meninggalkan semua yang dilarangnya.

Firman Allah dalam QS al-Hasyr (59): 7

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terima­lah. Dan apa yang dilarangnya baginya, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah itu amat keras hukum-Nya.”

Dalam hubungannya dengan membaca kitab Barzanji,  ada di antara umat Indonesia yang sudah meyakini sebagai wujud cintanya pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan karena mencintai beliau diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya, berarti mereka menganggap membacaa kitab tersebut merupakan bagian ibadah. Umat Islam yang berbeda pendapat, sudah lama menyatakan sikap kritisnya. Akibat perbedaan paham itu, kadang-kadang mengganggu ukhuwah Islamiyah.

Kiranya perlu ada alternatif solusi. Bagaimana kalau perbedaan paham itu tidak perlu lagi terus-menerus diangkat di ruang publik. Umat Islam yang berpendapat bahwa di dalam kitab Barzanji terdapat narasi hasil “kreativitas imajnasi” penulisnya, yang dinilai “menodai” akidah, tidak lagi secara frontal menolaknya, tetapi mau memahami cara berpikit umat Islam yang menganggap bahwa membaca kita Barzanji adalah ibadah.

Sebaliknya, umat Islam yang berpendapat bahwa membaca kitab itu sebagai ibadah, dapat memahami cara berpikir umat Islam yang berbeda dari pendapatnya. Tidak perlu saling meremehkan! Masih banyak masalah besar yang lebih penting dan perlu diselesaikan secara sinergis. Kiranya strategi dakwah yang dipilih oleh   Muhammadiyah selama ini sangat bagus dan perlu dicontoh oleh ormas keagamaan yang lain.

Sangat bagus lagi jika ada usaha menerbitkan kitab Sirah Nabawiyah dengan isi yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya dan disajikan dengan teknik dan dengan bahasa yang lebih menarik.  Di samping itu, ada edukasi secara akademis bagi generasi penerus tentang kitab Barzanji agar umat Islam masa depan tercerahkan. Bukankah ini wujud cinta pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Wa Allahu a’lam

Mohammad Fakhrudin, warga Muhammadiyah tinggal di Kota Magelang

Iyus Herdiyana, Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Purworejo

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan suaramuhammadiyah.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab suaramuhammadiyah.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement