Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Nasihat KH Mashum Sufyan Supaya Tiru Filosofi Beras

Kamis 04 Nov 2021 23:22 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

KH Mashum Sufyan adalah ulama asal Gresik yang bersahaja. Ilustrasi padi melimpah

KH Mashum Sufyan adalah ulama asal Gresik yang bersahaja. Ilustrasi padi melimpah

KH Mashum Sufyan adalah ulama asal Gresik yang bersahaja

REPUBLIKA.CO.ID, —Para ulama terdahulu memiliki peran sentral dalam mendidik generasi muda dan memperjuangkan kemerdekaan di Indonesia. Salah satunya adalah KH Mashum Sufyan. Ia adalah seorang ulama asal Gresik yang lahir di tengah geliat kebangkitan perjuangan melawan penjajahan.

Kiai Mashum  Sufyan adalah seorang kiai yang sangat tinggi kepeduliannya terhadap bangsa dan negara. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, ia termasuk pejuang yang gigih di daerahnya, bahkan disebut-sebut sebagai ahli strategi perang di kalangan teman-teman dan masyarakatnya.

Baca Juga

Selain dikenal sebagai pejuang, Kiai Mashum  juga merupakan seorang pendiri Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Gresik. Ia adalah seorang tokoh dan ulama yang patut ditiru dan diteladani di bidang keilmuan, perjuangan, kepemimpinan dan kesederhanaannya.

KH Mashum Sufyan lahir di Desa Dukunanyar, Kecamatan Dukun, Gresik, Jawa Timur pada 1334 H/1913 M. Ia dilahirkan keluarga yang sederhana.

Sepanjang perjalanan hidupnya, KH Mashum Sufyan dikenal sebagai sosok kiai yang berkecimpung dan berkiprah di dalam Nahdhatul Ulama (NU). Kiai Mashum patut dijadikan cermin kehidupan. Kepribadiannya sangat sederhana, berwawasan luas, istiqamah dalam beribadah, dan konsisten dalam mendidik santri.

Sebagai seorang kiai pemimpin pesantren, Kiai Mashum bukan hanya sebagai guru agama yang pintar dalam ilmu balaghah maupun tafsir, melainkan juga sebagai guru keteladanan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat banyak yang bertanya kepadanya tentang permasalahan hidup.  

Kepada para santrinya, Kiai Mashum  Sufyan juga kerap menyampaikan nasihat agar menjadi seperti beras, yang setiap harinya selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Kalau tidak bisa menjadi beras, maka santrinya disarankan untuk menjadi seperti obat, yang walaupun tidak dibutuhkan setiap hari, kadang-kadang dibutuhkan.

Pada masa perebutan kekuasaan negeri ini, Kiai Mashum  juga ikut menjadi prajurit pembela negara. Bahkan tidak cuma itu, ia juga menjadi konseptor yang mengatur strategi perjuangan untuk menghadapi serangan kaum penjajah yang akan menguasai Tanah Air.

Diceritakan bahwa suatu waktu Belanda sudah masuk ke desa Sembayat, Manyar, Gresik. Kemudian pernguasa daerah mengadakan musyawarah tentang bagaimana cara mengatasinya. Pada saat itu, Kiai Mashum  kemudian menyarankan kepada pejuang agar mempertahankan daerah Sembayat dan menyerang ke sana.

Karena konsep tersebut munculnya dari Kiai Mashum , maka majelis tersebut memutuskan untuk melaksanakannya dan sekaligus mengamanatkannya kepada Kiai Mashum.

Kemudian dipilihlah pemuda-pemuda yang cakap dalam berjuang, termasuk di antaranya M Ali dan Fadlun. Namun, sayangnya tidak banyak catatan sejarah yang menjelaskan tentang detail peristiwa tersebut.

Kiai Mashum  memang termasuk kiai yang memiliki karisma luar biasa. Ia merupakan salah seorang konseptor perjuangan Islam yang memberikan corak kehidupan masyarakat sampai akhir hidupnya. Kiai Mashum  berpulang ke rahmatullah pada Ahad Kliwon 25 Rabiul Awwal 1411 H/14 Oktober 1990.      

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA