Tuesday, 22 Jumadil Akhir 1443 / 25 January 2022

Tuesday, 22 Jumadil Akhir 1443 / 25 January 2022

Pengamat: PDIP Jegal Lawan Sebelum Bertanding

Kamis 04 Nov 2021 15:26 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Agus Yulianto

Direktur Riset Populi Center, Usep S Ahyar.

Direktur Riset Populi Center, Usep S Ahyar.

Foto: Republika/Mimi Kartika
PT dianggap mempersulit munculnya pilihan alternatif bagi masyarakat di Pilpres 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Senior Populi Center Usep S Ahyar menyindir PDIP yang mempertahankan Presidential Threshold (PT) sebesar 20 persen. PT atau ambang batas mengusung capres dianggap mempersulit munculnya pilihan alternatif bagi masyarakat di Pilpres 2024.

Usep menyinggung, PDIP yang menjaga PT 20 persen guna menjegal kompetitor di Pilpres 2024. Menurutnya, PDIP mempertahankan PT 20 persen karena capres yang rencananya diusung yaitu Puan Maharani punya elektabilitas rendah. Adapun sang kompetitor ialah Anies Baswedan yang elektabilitasnya moncer di berbagai survei Capres.

"Ini kan yang pertahankan PT itu karena memang di situ tidak ada calon yang elektabilitasnya tinggi. Lalu, kemudian biarpun ada yang elektabilitasnya tinggi di partai itu (Ganjar Pranowo) terjegal dengan sendirinya sebelum bertarung. Cara berpikir seperti itu busuk," kata Usep kepada Republika, Kamis (4/11).

Usep menyayangkan, revisi Undang-Undang Pemilihan Umum (UU Pemilu) di tiap periode kepemimpinan bukan demi kemajuan bangsa. Perubahan UU Pemilu dianggap demi menguntungkan selera penguasa. Alhasil, agenda perubahan PT hanya untuk menguntungkan parpol.

"Parpol tidak mikir konteks lebih panjang, jadi tiap satu periode diubah UU-nya. Harusnya mikir mana yang manfaat mana yang enggak," ujar Usep

Usep mengingatkan, agar tiap parpol mestinya berpikir lebih jauh untuk mencegah polarisasi masyarakat. Dia khawatir, PT yang terlalu besar membuat opsi Capres terbatas hanya 2 paslon. 

"Harusnya pertimbangannya agar political block lebih cair, soal polarisasi mencair untuk kepentingan bangsa dan negara lah," ucap Usep.

Selain itu, Usep menyinggung supaya Pilpres 2024 mestinya menghadirkan opsi Capres alternatif. Sehingga para Capres yang muncul tak lagi sekedar nama lama.

"Kemajemukan perlu tergambar. Cara berpikirnya harus begitu bukan kalau nanti (PT) diganti 2024 saya dapat apa dari peluang itu? kan mikirnya gitu. Saya atau parpol punya maksud begitu maka harus didukung UU. Ini UU jadi senjata parpol," tutur Usep.

Sebelumnya, Partai Golkar, Nasdem, dan PDIP tetap menginginkan pemberlakuan ambang batas pencalonan PT. Tiga partai ini ingin penerapan ambang batas 20 persen.

Wakil Ketua Pansus RUU Pemilu Yandri Susanto mengungkap posisi terakhir posisi fraksi-fraksi di DPR terhadap poin presidential threshold, yakni tujuh berbanding tiga. Tujuh parpol menginginkan PT ditiadakan atau nol persen, sisanya menginginkan sebesar 20 persen. 

"Nah yang 20 persen itu ada Golkar, Nasdem dan PDIP. Yang nol persen itu mayoritas fraksi," ujar Yandri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa 6 Juni 2017.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA