Selasa 02 Nov 2021 23:31 WIB

Bertemu MER-C, Romo Magnis: Bantu Palestina Sangat Terpuji

Romo Magnis menegaskan isu Palestina bukan hanya isu Islam

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah
Romo Magnis menegaskan isu Palestina bukan hanya isu Islam. Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Palestina. (ilustrasi)
Foto: EPA/Atef Safadi
Romo Magnis menegaskan isu Palestina bukan hanya isu Islam. Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Palestina. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Romo Frans Magnis Suseno untuk membahas konflik Palestina dan Israel pada Jumat lalu. Pertemuan ini dalam rangka safari kemanusiaan MER-C dengan tokoh-tokoh lintas agama untuk Palestina.

Ketua Presidium MER-C ini berdiskusi dan meminta pandangan serta masukan dari salah satu tokoh agama Katolik senior Indonesia, yakni Romo Magnis. Romo Magnis memberikan pandangannya, menurutnya, membantu orang-orang Palestina merupakan tindakan yang sangat terpuji, karena rakyat Palestina mengalami penjajahan yang sangat serius. 

Baca Juga

Romo Magnis juga sepakat dan mendukung langkah MER-C. Menurutnya permasalahan di Palestina bukan hanya milik umat Islam, karena di sana ada bermacam-macam agama. 

"Saya kira membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena mereka mengalami terjajah yang sangat serius, kalau bantuan dalam bentuk rumah sakit, tentu saya sangat mendukung itu," kata Romo Magnis dalam siaran pers resmi dari MER-C kepada Republika.co.id, Selasa (2/11). 

Dia menegaskan, permasalahan di Palestina bukan masalah Islam saja. Karena ada orang Kristen di Palestina, di antaranya Katolik, Ortodoks, dan lain sebagainya. Semua orang Arab, mereka semua penduduk Palestina dan mereka sama. 

Namun, menurutnya, situasi di Palestina pada umumnya tidak mudah, masalahnya konflik politis kemanusiaan dan etis. Dia sepakat bahwa orang Palestina baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza berhak atas kebebasan penuh dan itu berarti mempunyai negara berdaulat. Permasalahan Yerusalem menurutnya lebih kompleks.

Romo Magnis menyatakan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. "Saya bertolak dari anggapan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. Israel itu sendiri masuk dalam eksistensi yang tentu bisa sangat diragukan, tapi sudah lama diakui oleh PBB dan oleh umumnya masyarakat dunia, jadi policy bahwa Israel harus dibubarkan, itu salah besar," ujarnya. 

Romo Magnis mengatakan, tidak melihat hal lain selain two-state solution. Namun ia melihat penyebab yang membuat two-state solution itu sulit, karena sabotase Israel adalah pemukiman-pemukiman, dan di sana ada keterlibatan Amerika Serikat (AS).

Dia menerangkan, pemukiman dimulai sekitar 1971 dan sekarang ada sekitar 2,8 juta orang Palestina Arab, juga banyak Kristen di sana walau mayoritas Islam. Namun soal agama tidak menjadi masalah. Kini sudah lebih dari setengah juta Yahudi dengan 1.600 rumah baru akan didirikan. 

"Lalu bagaimana Amerika Serikat memberi semacam two-state solution, pemukiman itu termasuk Israel dan Israel juga menuntut sungai Yordan, lalu yang tinggal (tersisa) dari Palestina itu apa," ujarnya. 

Dia mengatakan, terlepas dari masalah etika, Israel mengira bisa selamanya menindas masyarakat Arab di Tepi Barat (Palestina), padahal tidak mungkin. Dia mencontohnya apartheid di Afrika yang juga tidak bisa dipertahankan untuk selamanya.     

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement