Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Menkeu Sampaikan Tiga Tantangan Pemulihan Ekonomi Global

Ahad 31 Oct 2021 06:47 WIB

Rep: Dessy Suciati/ Red: Christiyaningsih

Pekerja membongkar muat peti kemas di IPC Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/10/2021). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kesenjangan vaksinasi jadi salah satu tantangan pemulihan ekonomi global. Ilustrasi.

Pekerja membongkar muat peti kemas di IPC Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/10/2021). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kesenjangan vaksinasi jadi salah satu tantangan pemulihan ekonomi global. Ilustrasi.

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Kesenjangan vaksinasi jadi salah satu tantangan pemulihan ekonomi global

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemulihan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 di seluruh dunia saat ini tengah dilakukan meskipun tidak merata. Salah satu penyebabnya yakni akses vaksin yang tidak merata di seluruh dunia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam keterangannya di Roma, Italia, pada Sabtu (30/10) usai mendampingi Presiden Joko Widodo dalam KTT G20 di La Nuvola.

Baca Juga

"Ada negara-negara yang sampai hari ini bahkan jumlah vaksinasinya dari penduduknya kurang dari tiga persen, di negara-negara Afrika. Rata-rata yang di negara-negara miskin baru enam persen dari penduduknya. Sementara negara-negara maju sudah melakukan vaksinasi di atas 70 persen atau bahkan mendekati 100 persen dan mereka sudah melakukan boosting," ujar Menkeu dikutip dari siaran resmi Istana.

Selain akses vaksin yang tidak merata, pemulihan ekonomi dunia juga terancam oleh dua hal lain yaitu terjadinya inflasi kenaikan energi dan disrupsi dari suplai. Menurut Menkeu, hal tersebut terjadi di seluruh negara yang pemulihan ekonominya sangat cepat tapi mengalami komplikasi dalam bentuk kenaikan harga energi dan disrupsi suplai.

"Artinya apa? Waktu permintaan pulih dengan cepat dan kuat, ternyata suplainya tidak mengikuti," tambahnya.

Kenaikan energi yang terjadi sangat cepat karena investasi di bidang energi terutama yang tidak terbarukan itu sudah merosot tajam dihadapkan pada permintaan energi yang melonjak akibat pemulihan ekonomi. Kondisi itu yang kemudian mendorong inflasi tinggi di berbagai negara.

"Ini menjadi ancaman pemulihan ekonomi global. Indonesia perlu juga tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya rembesan hal tersebut," ungkap Sri Mulyani

Karena Covid-19 adalah ancaman nyata terhadap perekonomian dunia, maka dalam pembahasan antara menteri keuangan dengan menteri kesehatan negara-negara G20 disepakati pembangunan sebuah mekanisme yang disebut pencegahan pandemi atau pandemic preparedness.

"Hari ini dunia tidak siap menghadapi pandemi. Nyatanya (pandemi) telah menyebabkan biaya sampai 12 triliun dolar AS, lima juta orang meninggal, dan lebih dari 250 juta orang yang terkena pandemi ini. Maka dunia harus menyiapkan lebih baik," jelasnya.

Dalam KTT G20 kali ini disepakati joint finance health task force atau satuan kerja antara menteri keuangan dan menteri kesehatan di bawah G20. Satuan kerja ini tujuannya adalah untuk menyiapkan prevention, preparedness, and response atau PPR dari pandemi.

"Task force ini dipimpin oleh Menteri Keuangan Indonesia dan Italia. Indonesia sebagai tuan rumah atau presidensi mulai Desember dan Italia yang sekarang ini menjadi presidensi," ujarnya.

Ia mengatakan pentingnya peran Indonesia karena merupakan negara yang besar. Selain itu, Indonesia juga punya komitmen terhadap vaksinasi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA