Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

CIA Prediksi Pemerintah Afghanistan Jatuh Akhir Tahun

Jumat 29 Oct 2021 15:12 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

 Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan pinggir jalan di Kabul, Afghanistan, Kamis (9/10/2021). Taliban menuntut penghapusan para pemimpinnya dari daftar hitam PBB dan AS, dan mengkritik komentar tidak baik yang dibuat terhadap anggota pemerintah baru di Afghanistan.

Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan pinggir jalan di Kabul, Afghanistan, Kamis (9/10/2021). Taliban menuntut penghapusan para pemimpinnya dari daftar hitam PBB dan AS, dan mengkritik komentar tidak baik yang dibuat terhadap anggota pemerintah baru di Afghanistan.

Foto: EPA-EFE/STRINGER
Prediksi CIA jauh dari tepat, pemerintah Afghanistan jatuh pada Agustus.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebuah laporan menyebut badan-badan intelijen Amerika Serikat (AS) gagal memprediksi jatuhnya Kabul ke tangan Taliban. The Wall Street Journal meninjau puluhan penilaian dari CIA, Badan Intelijen Pertahanan (DIA), Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) dan biro intelijen Departemen Luar Negeri AS.

Dalam tinjauannya seperti dikutip laman Daily Sabah, Jumat (29/10), badan-badan intel AS sepakat pemerintah yang diakui secara internasional tidak mungkin bertahan hidup tanpa bantuan AS.Namun mereka salah memprediksi kelanjutan masa berkuasanya pemerintah Afghanistan tersebut.

 

Sebuah laporan 17 Mei dari CIA menetapkan, pemerintah akan jatuh pada akhir tahun. Kurang dari sebulan kemudian, sebuah penilaian mengatakan bahwa Taliban akan mengambil kendali penuh dalam waktu dua tahun.

Pada 4 Juni, DIA mengatakan Taliban akan mengadopsi strategi untuk mengambil dan mengisolasi daerah pedesaan. Tiga hari kemudian, DIA mengatakan dalam memo eksekutif bahwa pemerintah akan terus menahan Kabul.

"Kekurangan intelijen mendukung beberapa kegagalan kebijakan yang mengakibatkan evakuasi sipil massal yang kacau di minggu-minggu terakhir perang Afghanistan yang telah berlangsung selama 20 tahun di AS," lapor Wall Street Journal.

Baca juga : Inggris: Ancaman Prancis akan Menemui Respons Cepat

Jauh dari analisis intelijen resmi, Kabul jatuh ke tangan Taliban pada 15 Agustus. Mantan presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari ibu kota saat gerilyawan mendekat. Sementara AS berada di Bandara Internasional Kabul Hamid Karzai mengevakuasi lebih dari 120 ribu orang asing dan warga negara Afghanistan dalam dua pekan berikutnya di hari-hari terakhir penarikan Washington.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA