Rabu 27 Oct 2021 15:19 WIB

Masjid Jogokariyan Gelar Pelatihan Ekonomi Berbasis Masjid

Pelatihan pemberdayaan ekonomi akan dihadiri narasumber berkompeten

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nashih Nashrullah
Pelatihan pemberdayaan ekonomi akan dihadiri narasumber berkompeten. Masjid Jogokariyan Yogyakarta.
Foto: Yusuf Assidiq
Pelatihan pemberdayaan ekonomi akan dihadiri narasumber berkompeten. Masjid Jogokariyan Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA— Masjid Jogokariyan dan Bank Syariah Indonesia menggelar Pelatihan Nasional untuk Pemberdayaan dan Pemberdayaan Pemulihan Ekonomi Masa Pandemi Berbasis Masjid. Agenda diadakan pada 29-31 Oktober 2021 di Masjid Jogokariyan.

Pelatihan yang turut didukung Muslim United ini menghadirkan pakar-pakar. Mulai dari Dirut Bank Syariah Indonesia (BSI) Herry Gunadi, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Ustaz Muhammad Jazir ASP, Presdir Global Wakaf Corporation Gunawan.

Baca Juga

Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar, Founder Muslim United Nanang Syaifurrozi, Komisaris Ayam Geprek Sako Kusnadi Ikhsani, Owner Aulia Fashion Suseno Budi Prasetyo.

Direktur Makanku Sugiri dan pengusaha peternak sapi Sudi Irianto serta beragam elemen masyarakat berbagai daerah. Ketua Panitia, Rizki Baldi mengatakan, acara ini dilatar belakangi banyaknya masyarakat Jogokariyan terdampak pandemi covid.

Terlebih, PPKM yang terus diperpanjang walau terus mengalami penurunan level. Melihat itu, Masjid Jogokariyan berinisiatif mengadakan pasar rakyat sebagai stimulasi meningkatkan daya beli warga dan berdampak baik bagi pelaku usaha.

"Melihat keberhasilan program pasar rakyat yang mulanya diadakan 10 hari ini kemudian pasar rakyat diadakan secara rutin dan ternyata masjid bisa menjadi solusi membangkitkan perekonomian di tengah pandemi," kata Rizki, Rabu (27/10).

Meski begitu, ia menilai, membuat program mengenai peningkatan perekonomian masyarakat di daerah-daerah tentunya membutuhkan pelatihan lebih lanjut. Sebab, program peningkatan perekonomian ini memang tidak bisa instan dilaksanakan.

Mulai harus meyakinkan seluruh komponen takmir, memetakan akar permasalahan, menentukan strategi, memilih program hingga melaksanakannya. Oleh karena itu, takmir masjid membutuhkan pelatihan agar ide tersebut mampu direalisasikan.

Mengingat jumlah masjid di Indonesia sangat banyak, sebenarnya setiap masjid memiliki potensi masing-masing untuk mengembangkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Dengan harapan Indonesia bisa maju perekonomiannya melalui masjid.

Sehingga, kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberi sosialisasi mengenai pentingnya masjid jadi pusat pemulihan perekonomian ekonomi masyarakat pada era pandemi. Membantu takmir-takmir masjid siapkan strategi pemulihan perekonomian.

Kemudian, Rizki menekankan, pelatihan turut membantu mempersiapkan masjid-masjid di Indonesia menjadi masjid yang mampu memulihkan perekonomian masyarakat sekitar. Sehingga, masjid benar-benar jadi pusat peradaban.

"Dengan biaya Rp 550 ribu peserta sudah mendapatkan ilmu bermanfaat, fasilitas-fasilitas berupa penginapan hotel bintang tiga, empat kali konsumsi, tiga kali coffee break, seminar kit, sertifikat, relasi dan lima voucher pasar rakyat," ujar Rizki. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement