Selasa 26 Oct 2021 17:16 WIB

Infeksi Flu Burung Terhadap Manusia Meningkat di China

Jumlah warga China yang terinfeksi flu burung meningkat tahun ini

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Petugas taman menangkapi burung-burung merpati di taman-taman Shanghai, China. Jumlah warga China yang terinfeksi flu burung meningkat tahun ini. Ilustrasi.
Foto: REUTERS
Petugas taman menangkapi burung-burung merpati di taman-taman Shanghai, China. Jumlah warga China yang terinfeksi flu burung meningkat tahun ini. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Jumlah warga China yang terinfeksi flu burung meningkat tahun ini. Para ahli menyatakan jenis virus yang beredar sebelumnya tampaknya telah berubah dan mungkin lebih menular ke manusia.

China melaporkan 21 infeksi manusia dengan subtipe H5N6 flu burung pada 2021 ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meskipun jumlahnya jauh lebih rendah daripada ratusan orang yang terinfeksi H7N9 pada 2017, infeksi serius menyebabkan banyak orang sakit kritis dan sedikitnya enam orang meninggal.

Baca Juga

"Peningkatan kasus manusia di China tahun ini mengkhawatirkan. Ini virus yang menyebabkan kematian tinggi," kata profesor patologi komparatif di Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Thijs Kuiken.

WHO melaporkan sebagian besar kasus telah bersentuhan dengan unggas dan tidak ada kasus penularan dari manusia ke manusia yang dikonfirmasi. Penyelidikan lebih lanjut segera diperlukan untuk memahami risiko dan peningkatan tumpahan ke orang-orang.

Sejak itu, menurut pernyataan Pemerintah Hong Kong, seorang perempuan berusia 60 tahun di provinsi Hunan dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis dengan influenza H5N6 pada 13 Oktober. Sementara kasus H5N6 pada manusia telah dilaporkan, tidak ada wabah H5N6 yang dilaporkan pada unggas di China sejak Februari 2020.

China adalah produsen unggas terbesar di dunia dan produsen bebek teratas yang bertindak sebagai reservoir virus flu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar tentang peningkatan kasus H5N6 pada manusia. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan di situs webnya bulan lalu mengatakan peningkatan keragaman genetik dan distribusi geografis H5N6 menimbulkan ancaman serius bagi industri unggas dan kesehatan manusia.

Virus flu burung terus-menerus beredar di unggas domestik dan liar, tetapi jarang menginfeksi manusia. Namun, evolusi virus yang meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi unggas menjadi perhatian utama karena dapat berubah menjadi virus yang menyebar dengan mudah di antara manusia dan menyebabkan pandemi.

Jumlah terbesar infeksi H5N6 terjadi di provinsi barat daya Sichuan, meskipun kasus juga telah dilaporkan di wilayah tetangga Chongqing dan Guangxi, serta provinsi Guangdong, Anhui, dan Hunan. Setidaknya 10 disebabkan oleh virus yang secara genetik sangat mirip dengan virus H5N8 yang merusak peternakan unggas di seluruh Eropa musim dingin lalu dan membunuh burung liar di China.

Kondisi tersebut menunjukkan infeksi H5N6 terbaru di China mungkin merupakan varian baru. "Bisa jadi varian ini sedikit lebih menular (ke manusia) atau mungkin ada lebih banyak virus ini pada unggas saat ini dan itulah mengapa lebih banyak orang terinfeksi," kata Kuiken.

China memvaksin unggas terhadap flu burung tetapi vaksin yang digunakan tahun lalu mungkin hanya melindungi sebagian dari virus yang muncul mencegah wabah besar. Namun Koordinator Laboratorium Regional di Pusat Darurat untuk Organisasi Penyakit Hewan Lintas Batas di Makanan dan Pertanian, Filip Claes, menyatakan upaya itu membiarkan virus tetap beredar.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement