Friday, 18 Jumadil Akhir 1443 / 21 January 2022

Tafakur, Cara Nabi Muhammad Mengobati Kesedihannya

Selasa 26 Oct 2021 08:01 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Ani Nursalikah

Tafakur, Cara Nabi Muhammad Mengobati Kesedihannya

Tafakur, Cara Nabi Muhammad Mengobati Kesedihannya

Foto: Republika.co.id
Nabi Muhammad banyak merenung dan berpikir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehidupan Nabi Muhammad SAW tenteram dan damai karena memiliki tujuh orang anak. Tiga laki-laki dan empat perempuan, (Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Fatimah)

"Dalam usia demikian itu harusnya tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah, yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah-bunda yang bahagia dan rela," tulis Husen Haekal dalam bukunya Sejarah Muhammad.

Baca Juga

Atas kematian Qasim dan Ibrahim, Nabi Muhammad membiarkan dirinya berjalan sesuai dengan suasana hatinya untuk bertafakur. Keadaannya ia bawa untuk berpikir dan merenung dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala.

"Serta apa pula yang dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang diri mereka itu. Ia berpikir dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung," katanya.

Jiwa yang kuat dan berbakat ini, jiwa yang sudah mempunyai persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang hakiki. Jiwa demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang sudah hanyut ke dalam lembah kesesatan. 

"Sudah seharusnya ia mencari petunjuk dalam alam semesta ini, sehingga Tuhan nanti menentukannya sebagai orang yang akan menerima risalah-Nya," katanya.

Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada padanya, ia tidak ingin menjadikan dirinya sebangsa dukun atau ingin menempatkan diri sebagai ahli pikir. Yang dicarinya hanyalah kebenaran semata. 

"Pikirannya penuh untuk itu, banyak sekali ia merenung," katanya.

Pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan kepada orang lain. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun.

"Tujuannya menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan.Pengasingan ini untuk beribadah semacam ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth," katanya.

Di tempat ini rupanya Nabi Muhammad mendapat tempat yang paling baik guna mendalami pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam dirinya. Juga di tempat ini ia mendapatkan ketenangan dalam dirinya serta obat penawar hasrat hati yang ingin menyendiri, ingin mencari jalan memenuhi kerinduannya yang selalu makin besar, ingin mencapai ma’rifat serta mengetahui rahasia alam semesta.

 

photo
Infografis Tujuan Nabi Muhammad Kerap Menyendiri - (Republika.co.id)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA