Thursday, 24 Jumadil Akhir 1443 / 27 January 2022

Thursday, 24 Jumadil Akhir 1443 / 27 January 2022

Sosiolog: Efek Pandemi Munculkan Aneka Fenomena di Bali

Senin 25 Oct 2021 19:50 WIB

Red: Fuji Pratiwi

Area Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Badung, Bali (ilustrasi). Dampak pandemi Covid-19 memunculkan fenomena seniman musik jalanan di Bali.

Area Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Badung, Bali (ilustrasi). Dampak pandemi Covid-19 memunculkan fenomena seniman musik jalanan di Bali.

Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.
Fenomena seniman musik jalanan di Bali perlu dilihat secara arif.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Sosiolog Universitas Udayana, Bali, Wahyu Budi Nugroho mengatakan, dampak dari pandemi Covid-19 telah memunculkan berbagai fenomena baru di Pulau Dewata. Salah satunya seniman musik jalanan dengan ciri khas berbusana adat Bali.

"Masa pandemi menyebabkan banyak orang berkurang, bahkan kehilangan sama sekali pemasukannya, sehingga mereka melakukan apapun untuk menyambung hidup. Boleh jadi salah satunya dengan menjadi seniman musik jalanan," kata Wahyu saat dikonfirmasi di Denpasar, Bali, Senin (25/10).

Baca Juga

Ia mengatakan, keberadaan seniman jalanan dengan pakaian tradisional bisa menjadi penawar kerinduan akan seni dan budaya tradisional yang sudah mulai jarang ditampilkan. Terlebih selama masa pandemi.

"Mungkin, kita perlu melihatnya secara lebih arif. Dewasa ini kita dikepung hiburan-hiburan modern lewat televisi, media sosial, atau film-film daring berlangganan," kata dia.

Meskipun seniman jalanan yang ditemukan dominan adalah anak muda, menurut Wahyu, hal tersebut tidak jadi masalah. Justru jika bisa dikelola dengan baik, ini bisa menjadi daya tarik baru bagi pariwisata. Wahyu mengatakan, keberadaan seniman-seniman jalanan ini nantinya bisa diwadahi melalui paguyuban seniman jalanan agar lebih terorganisasi. Selain itu, juga untuk mereduksi konflik antarseniman jalanan atau dengan masyarakat.

"Yogyakarta misalkan, di objek wisata Malioboro bisa ditemui para seniman musik jalanan dengan peralatan musik tradisional, serta menggunakan pakaian tradisional blangkon dan pakaian batik lurik," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi mengatakan, memang banyak seniman musik jalanan dengan pakaian adat Bali di setiap perempatan. Satpol PP sudah berupaya kerja sama dengan dinas sosial.

Dinas sosial sudah menyiapkan tempat diklat, bahkan pelatih dari dinas tenaga kerja, sesuai dengan arahan gubernur. "Tapi, yang rencananya orang kita mau latih enggak mau," kata dia.

Menurutnya, situasi ini masih pro dan kontra di masyarakat. Namun, sebenarnya tidak masalah ada temuan ini, tetapi memang harus ditertibkan karena di Bali tidak ada budaya seperti itu.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA