Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

Pengalaman Muhammad Muda yang Merubah Perasaan Khadijah

Jumat 22 Oct 2021 19:23 WIB

Rep: Ali Yusuf / Red: Muhammad Subarkah

Makkah dan Ka

Makkah dan Ka

Foto: Istimewa
Cerita Pengalaman Muhammad Muda yang Merubah Perasaan Khadijah

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Muhammad dan Maisara telah kembali ke Makkah setelah menyelesaikan perdagangannya Khadijah bint Khuwailid. Pasca selesai dagang kini gilirannya dia menceritakan pengalamannya kepada Khadijah bint Khuwailid atas perintah Maisara.

"Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu.” saran Maisara seperti ditulis Husen Haekal dalam bukunya Sejarah Muhammad.
 
Atas saran itu Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Makkah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya. 
 
"Ia Khadijah turun dan menyambutnya," katanya.
 
Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barangSyam yang dibawanya. 
 
"Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan," katanya.
 
Sesudah itu Maisarapun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tingginya budipekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah  diketahuinya sebagai pemuda Makkah yang besar jasanya. 
 
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa
cinta, sehingga dia - yang sudah berusia 40 tahun, dan yang sebelum itu telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. 
 
Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya - kata sumber lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata.
 
"Kenapa kau tidak mau kawin?"
 
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan,” jawab Muhammad.
 
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?”
 
“Siapa itu?”
 
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: “Khadijah.”
 
“Dengan cara bagaimana?” tanya Muhammad. 
 
Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy. Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan.
 
"Serahkan hal itu kepadaku," maka iapun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari
perkawinan.

Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar.
 
Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan,
bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah

telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.

Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapak, suami-isteri yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak, dan sebagai ibu-bapak yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapa semasa ia masih kecil.

 
 
 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA