Jumat 22 Oct 2021 10:15 WIB

Viral Sikap Fahri Dulu Kecam dan Sekarang Pro Ataturk

Menurut Fahri Hamzah, Sukarno pas disandingkan dengan Mustafa Kemal sebagai jalan.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah
Foto: ANTARA /Hafidz Mubarak A
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora, Fahri Hamzah menjelaskan, Presiden Turki Recep Tayyib Erdodan sangat menghormati Mustafa Kemal Pasha yang dijuluki Ataturk alias Bapak Bangsa. Menurut Fahri, Ataturk sebagai Bapak Turki modern sebagaimana Sukarno bagi Indonesia.

"Ataturk telah diterima dalam hall of fame bangsa Turki dengan segala kurang lebih seperti Sukarno dengan segala kurang lebih. Ia adalah nama yang dipakai untuk keakraban dua negara. Itu saja!" kata Fahri lewat akun Twitter, @Fahrihamzah di Jakarta.

Fahri terkesan setuju dengan pemberian nama Jalan Mustafa Kema Pasha alias Ataturk di Jakarta sebagai imbal balik nama Jalan Ahmed Sukarno di Ankara, Turki. Dia menjelaskan, Sukarno sangat pas disandingkan dengan Mustafa Kemal sebagai jalan. Keduanya sama-sama memakai jas dan dasi.

Adapun jika nama jalan adalah Sultan Memhed II Al Fatih maka yang disandingkan adalah Jalan Wali Songo. "Nama jalan, sama dengan konsep sister city itu resiprokal (ada di sini-ada di sana) lalu disepakati, lalu teken bareng," kata Fahri.

Meski begitu, dia membantah jika argumennya itu sebagai bentuk dukungan kepada Mustafa Kemal. "Bukan maunya kita sepihak. Jadi jangan sepihak. (Lagi ngomong gini tiba-tiba ada yang bilang wah pro-Ataturk, dulu antisekuler, dia berubah)," ujar Fahri.

Baca juga : Kemal Attaturk tak Sebanding dengan Soekarno

Warganet pun kemudian membongkar cicitan lama Fahri yang terkesan antiterhadap Mustafa Kemal Pasha. Adalah @ferizandra yang menyandingkan status Fahri sekarang dengan yang dibuatnya pada 1 Maret 2018, ketika menjadi Wakil Ketua DPR dari PKS. Kala itu, Fahri mengkritik kebijakan pemerintah Indonesia dengan menyandingkan kebijakan yang dibuat Mustafa Kemal di Turki.

"Islam macam apa yang kalian inginkan? Apa mau seperti Ataturk? Apa mau azan diganti bahasa Indonesia? Assalamualaikum diganti selamat pagi? Apa mau sholat pakai baca pembukaan UUD45? Apa sih maunya? Susah betul memahami bahwa yang bodoh itu ya pemerintah," kata Fahri.

Ketik dikonfirmasi Republika pada Jumat (22/10), mengapa dulu mengecam dan sekarang mendukung Ataturk dari kesimpulan tweet yang dibuat, Fahri hanya berkomentar singkat. "Dukung apa?" ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement