Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

PBB Bentuk Dana Perwalian Khusus untuk Bantu Afghanistan

Jumat 22 Oct 2021 07:15 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Pengungsi internal menerima bantuan makanan yang didistribusikan oleh Bulan Sabit Merah di Kabul, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban mengatakan pada 14 September bahwa PBB harus membantu mereka dalam membantu hampir 3,5 juta warga Afghanistan kembali ke rumah mereka setelah mengungsi di dalam negeri karena untuk kekerasan.

Pengungsi internal menerima bantuan makanan yang didistribusikan oleh Bulan Sabit Merah di Kabul, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban mengatakan pada 14 September bahwa PBB harus membantu mereka dalam membantu hampir 3,5 juta warga Afghanistan kembali ke rumah mereka setelah mengungsi di dalam negeri karena untuk kekerasan.

Foto: EPA-EFE/STRINGER
Bantuan tunai bertujuan untuk menyuntikkan likuiditas ke rumah tangga Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membentuk dana perwalian khusus untuk menyediakan uang tunai yang sangat dibutuhkan langsung ke Afghanistan, Kamis (21/10). Dana ini akan disalurkan melalui sistem yang memanfaatkan dana donor yang dibekukan sejak pengambilalihan Taliban pada Agustus.

Dengan ekonomi lokal yang runtuh, menurut PBB, penyaluran bertujuan untuk menyuntikkan likuiditas ke rumah tangga Afghanistan. Penyaluran tersebut membantu warga untuk bertahan hidup selama musim dingin ini dan tetap di tanah airnya meskipun terjadi gejolak.

Administrator Program Pembangunan PBB (UNDP) Achim Steiner mengatakan, Jerman yang merupakan kontributor pertama telah menjanjikan 50 juta euro  untuk dana tersebut. Badan ini pun telah berhubungan dengan donor lain untuk memobilisasi sumber daya.

UNDP telah menghitung biaya kegiatan yang harus ditanggung selama 12 bulan pertama sekitar 667 juta dolar AS. "Yang kita saksikan bukan hanya sebuah bangsa dan negara di tengah menara politik, apa yang juga kita saksikan adalah ledakan ekonomi," kata Steiner dikutip dari Aljazirah.

"Kita harus turun tangan, kita harus menstabilkan 'perekonomian rakyat' dan, selain menyelamatkan nyawa, kita juga harus menyelamatkan mata pencaharian," katanya.

Steiner  menyatakan, jika negara-negara lain tidak ikut terlibat, maka jutaan  orang Afghanistan tidak dapat tinggal di rumahnya sendiri untuk bertahan hidup. "Implikasinya tidak sulit untuk dipahami," katanya.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan sebelumnya bahwa ekonomi Afghanistan akan berkontraksi hingga 30 persen tahun ini. Kondisi tersebut kemungkinan akan semakin memicu krisis pengungsi yang akan mempengaruhi negara-negara tetangga, Turki dan Eropa.

Pengambilalihan Taliban menyebabkan miliaran aset bank sentral dibekukan dan lembaga keuangan internasional menangguhkan akses ke dana, meskipun bantuan kemanusiaan terus berlanjut. Bank kehabisan uang, pegawai negeri tidak dibayar dan harga pangan melonjak.

Direktur biro regional UNDP untuk kawasan Asia Pasifik, Kanni Wignaraja, mengatakan uang tunai akan diberikan kepada warga Afghanistan yang dipekerjakan dalam program pekerjaan umum. Beberapa program tersebut seperti program pengendalian kekeringan dan banjir, serta hibah yang diberikan kepada usaha mikro.

Penghasilan dasar sementara akan dibayarkan kepada warga Afghanistan yang rentan. Upaya itu adalah mencoba memastikan bahwa mata uang lokal yang terus menggerakkan ekonomi lokal. "Dan dengan melakukan itu, itu juga menjaga ekonomi makro agar tidak hancur total. Ya, sistem perbankan sangat rapuh, masih ada sedikit kehidupan yang tersisa di dalamnya," ujar Wignaraja.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA