Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Vaksin 90 Persen Efektif Cegah Kematian Akibat Varian Delta

Kamis 21 Oct 2021 16:51 WIB

Rep: Mgrol131/ Red: Gita Amanda

Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Pfizer buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat.

Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Pfizer buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat.

Foto: npr.org
Vaksinasi menawarkan perlindungan yang tinggi dari kematian setelah dosis kedua.delta

REPUBLIKA.CO.ID, EDINBURGH -- Vaksinasi menjadi langkah yang efektif dalam melawan virus Covid-19. Para peneliti di Skotlandia mengatakan bahwa vaksin mampu mencegah 90 persen tingkat kematian akibat virus delta.

Dilansir dari BBC News, University of Edinburgh telah merilis data yang disusun menggunakan alat pengawasan Covid di seluruh Skotlandia. Dari data tersebut menunjukkan tingkat efektivitas vaksin terhadap pencegahan. Hasilnya Pfizer-BioNTech sebesar 90 persen dan Oxford-AstraZeneca sebesar 91 persen.

Hasil tersebut dilihat dari bagaimana orang-orang yang sudah divaksinasi, tetapi mendapat hasil positif pada tes Covid mereka. Studi ini merupakan yang pertama untuk menunjukkan seberapa efektif vaksin dalam mencegah kematian yang diakibatkan varian delta.

Dapat diketahui bersama, bahwa varian baru Covid-19 ini adalah bentuk yang paling dominan di Inggris. Para peneliti dalam studi ini mendefinisikan tingkat kematian akibat Covid berdasarkan mereka yang meninggal selama rentang waktu 28 hari pasca hasil positif tes PCR atau mereka yang meninggal dengan penyebab Covid pada sertifikat kematiannya.

Studi ini menganalisis data 5,4 juta orang di Skotlandia antara 1 April sampai dengan 27 September 2021. Selama periode tersebut, tercatat 115 ribu orang positif setelah melakukan tes PCR di masyarakat, serta 201 orang meninggal akibat Covid-19. Namun data menunjukkan bahwa tidak ada satu kasus kematian pun tercatat pada mereka yang telah divaksinasi ganda dengan vaksin Moderna di Skotlandia.

Para peneliti pun mengatakan, data ini tidak dapat digunakan untuk memperkirakan efektivitas vaksin khusus Moderna dalam mencegah kematian akibat Covid. Untuk itu, para peneliti membentuk tim dari University of Edinburgh, University of Strathclyde dan Public Health Scotland, untuk menganalisis dataset yang merupakan bagian dari Projek EAVE II (projek evaluasi dini pandemi dan peningkatan pengawasan terhadap Covid-19).

Analisis dataset yang dilakukan mereka menggunakan data pasien yang dianonimkan, untuk melacak perkembangan pandemi dan peluncuran vaksin sejauh ini. Ditemukan 87,1 persen orang dewasa di Skotlandia telah melaksanakan vaksinasi Covid-19 dosis kedua. Dosis penguat ‘ketiga’ telah ditawarkan kepada kalangan yang berusia di atas 50 tahun, bersamaan dengan staf medis yang menjadi garda terdepan, dan orang dewasa yang lebih muda di beberapa kondisi kesehatan tertentu.

"Dengan varian delta sekarang menjadi strain dominan di seluruh dunia, dan menimbulkan risiko rawat inap yang lebih tinggi daripada varian sebelumnya yang terlihat di Inggris. Hal itu yang membuat mereka yakin bahwa vaksinasi menawarkan perlindungan yang tinggi dari kematian setelah dosis kedua,” kata Direktur Institut Usher Universitas Edinburgh dan pemimpin studi EAVE II, Prof. Aziz Sheikh.

Studi yang dilaksanakan tim peneliti dari tiga universitas tersebut, menunjukkan nilai yang didapat dari analisis data perawatan kesehatan rutin yang tersedia hingga saat ini. Yang mana data ini terakurasi hampir secara real-time.

“Temuan tersebut sangat menggembirakan, karena dapat menunjukkan bahwa vaksin tetap menjadi ukuran yang efektif dalam melindungi diri dan orang lain dari kematian akibat virus Covid-19 yang paling dominan (delta),” ujar profesor dari University of Strathclyde and Public Health Scotland, Chris Robertson.

Beliau menambahkan bahwa penting baginya memvalidasi hasil awal ini dengan studi lanjutan nanti. Tim penelitian tersebut juga mengatakan, data terkait efektivitas vaksin harus diterjemahkan secara hati-hati karena sifat pengamatannya menggunakan angka- angka, dan tidak mungkin untuk membandingkan langsung antara kedua vaksin tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA