Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Kisah Muhammad Muda, Sering Lapar dan Tak Pernah Kenyang

Rabu 20 Oct 2021 08:45 WIB

Rep: Ali Yusuf / Red: Muhammad Subarkah

Nabi Muhammad (ilustrasi)

Nabi Muhammad (ilustrasi)

Foto: Republika
Kisah masa muda Muhammad yang menginspirasi sampai tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menahan lapar sudah menjadi kebiasaan Muhammad muda. Dari rasa lapar inilah ia merenung dalam sehingga membentuk karakter Muhammad muda tampil sederhana dan bersahaja.

"Yang diperlukannya dalam hidup ini asal dia masih dapat menyambung hidupnya. Bukankah dia juga yang pernahh berkata: "Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak sampai kenyang?” tulis Husen Haekal dalam bukunya Sejarah Muhammad.
 
Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara orang mengejar harta dengan serakah hendak memenuhi hawa nafsunya, sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya.
 
"Kenikmatan jiwa yang paling besar, ialah merasakan adanya keindahan alam ini dan mengajak orang merenungkannya," katanya
 
Suatu kenikmatan besar, yang hanya sedikit saja dikenal orang. Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yang mula-mula yang telah diperlihatkan dunia sejak masa mudanya adalah kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. 
 
"Ini dimulai sejak kematian ayahnya ketika ia masih dalam kandungan, kemudian kematian ibunya, kemudian kematian kakeknya," katanya
 
Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat. Sehingga orang dapat mengetahui, bagaimana ia memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin.
 
Andai kata pada waktu itu Muhammad dibiarkan saja begitu, tentu takkan tertarik ia kepada harta. Dengan keadaannya itu ia akan tetap bahagia, seperti halnya dengan gembala-gembala pemikir, yang telah menggabungkan alam ke dalam diri mereka dan telah pula mereka berada dalam pelukan kalbu alam.
 
Akan tetapi Abu Talib pamannya hidup miskin dan banyak anak. Dari kemenakannya itu ia mengharapkan akan dapat memberikan tambahan rejeki yang akan diperoleh dari pemilik-pemilik kambing yang kambingnya digembalakan.
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA