Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Pemerintah Optimistis Industri Tetap Bergeliat

Jumat 15 Oct 2021 16:40 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (22/7). Kementerian Koordinator Perekonomian optimistis kegiatan industri akan semakin menggeliat pada akhir tahun ini.

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (22/7). Kementerian Koordinator Perekonomian optimistis kegiatan industri akan semakin menggeliat pada akhir tahun ini.

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Ekspor saat ini mulai beralih ke barang yang lebih bernilai tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Koordinator Perekonomian optimistis kegiatan industri akan semakin menggeliat pada akhir tahun ini. Meskipun angka impor bahan baku dan barang modal pada September 2021 menunjukkan penurunan secara bulanan (month to month/mtm).

Seperti diketahui, impor bahan baku/penolong sepanjang September 2021 turun 2,27 persen menjadi 12,09 miliar dolar AS. Adapun impor barang modal juga turun 2,66 persen menjadi 2,35 miliar dolar AS. Dua kelompok barang itu menjadi salah satu indikator penting terkait kegiatan produksi barang dari industri di dalam negeri.  

"Seiring dengan mulai adanya permintaan pasar global karena dibukanya aktivitas ekonomi dan angka penularan Covid-19 yang menurun, ekspor akan terus meningkat dan aktivitas industri akan menggeliat pada kuartal IV ini," kata Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, Iskandar Simorangkir kepada Republika.co.id, Jumat (15/10).

Ia mengatakan, kegiatan ekspor Indonesia saat ini juga mulai beralih ke barang yang lebih bernilai tinggi dari komoditas besi baa. Seperti misalnya komponen kendaraan bermotor serta mesin/peralatan mekanis.

Adapun untuk permintaan terhadap industri dari konsumen dalam negeri, pemerintah meyakini akan meningkat. Salah satu penopangnya lantaran pemerintah telah memberikan stimulus perlindungan sosial untuk 40 persen masyarakat golongan terbawah. Selain itu, disiapkan juga anggaran PEN untuk UMKM, serta korporasi di sektor riil sekaligus insentif fiskal untuk percepatan pengeluatan APBN dan APBD.

"Ditambah juga meningkatkan belanja kelas menengah atas karena meningkatkan kepercayaan konsumen. Ini terlihat dari angka vaksinasi Covid-19 yang juga semakin cepat," kata dia.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA