Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Hadits Larangan dan Bolehnya Wanita Haid Baca Alquran

Kamis 14 Oct 2021 20:29 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Para ulama bebeda pendapat terkait hukum wanita haid Baca Alquran. Ilustrasi wanita membaca Alquran

Para ulama bebeda pendapat terkait hukum wanita haid Baca Alquran. Ilustrasi wanita membaca Alquran

Foto: AP/Firdia Lisnawati
Para ulama bebeda pendapat terkait hukum wanita haid Baca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, – Para ulama saling berselisih pendapat mengenai larangan bagi Muslimah dalam memegang maupun membaca Alquran dalam kondisi berhadas.

Perselisihan pendapat itu muncul sebab para ulama berbeda dalam menyikapi hadits-hadits yang menyatakan larangan itu.

Baca Juga

KH Ali Mustafa Yaqub dalam buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal menjelaskan bahwa hadits-hadits yang menyatakan larangan itu adalah hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, serta atsar Imam Ad-Daruquthni dari Jabir bin Abdullah. Riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Mahjah dari Abdullah bin Umar dalam redaksinya.

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن ‘Laa taqra al-haaidhu walal-junubu syai’an minal-quran.” 

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, ‘Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca Alquran (walaupun satu ayat).” 

Sedangkan dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib: 

  كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرئنا القرآن ما لم يكن جنباً “Kaana Rasululluhi SAW yuqri-una Alqurana ala kulli haa-lin maa lam yakun junuban.” 

Ali bin Abi Thalib, dia berkata, ‘Selagi tidak dalam keadaan junub, Rasulullah SAW selalu membacakan Alquran pada kita setiap saat.” 

Sementara itu hadits Riwayat Imam Ad Daruquthni dari Jabir RA,  adalah sebagai berikut: 

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئًا من القرآن   ‘Laa yaqra’ al-haaidhu wa lal-junubu walaa an-nufasaa-u Alqurana.” 

‘Wanita haid dan nifas serta orang junub tidak boleh membaca Alquran.” 

Kiai Ali menjelaskan, dalil-dalil dengan matan berbeda itu tak ada satu pun yang sahih (valid), semuanya berkadarkan hadits dhaif (lemah). Titik lemah hadits riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah ada pada rawi Ismail bin Ayyash. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA