Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Kiprah Ottoman Lawan Inkuisisi Spanyol di Negeri Islam

Selasa 12 Oct 2021 10:07 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Muhammad Hafil

Kiprah Ottoman Lawan Inkuisisi Spanyol di Negeri Islam. Foto:  Pasukan Ottoman di Andalusia

Kiprah Ottoman Lawan Inkuisisi Spanyol di Negeri Islam. Foto: Pasukan Ottoman di Andalusia

Foto: wikipedia
Ottoman memperjuangkan nasib umat di sejumlah negeri Islam.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Hasanul Rizqa

Raja Ferdinand II (1452-1516) dan Ratu Isabella I (1451-1504) menmimpikan Spanyol sebagai negara satu agama. Setelah mengalahkan negeri Islam (thaifa) Granada pada 1492, keduanya segera menerapkan pemaksaan agama kepada kaum Muslimin dan Yahudi setempat. Lembaga Inkuisisi, yang didirikan sejak 1478, dipakai sebagai alat pukul.

Baca Juga

Walaupun Inkuisisi sejatinya adalah pengadilan gerejawi, paus menyerahkan pelaksanaannya kepada masing-masing negara Katolik. Ribuan orang tercatat sebagai korban, termasuk mereka yang mengaku telah meninggalkan iman semula karena masih saja dituding penguasa sebagai pura-pura Katolik.

Raja dan ratu tersebut juga berupaya menghapus jejak-jejak kebesaran Islam di al-Andalus. Memang, usaha keduanya bukanlah hal yang baru. Raja Castile-Leon, Alfonso VI, setelah menaklukkan Toledo pada 1085 memaklumkan misi “penaklukkan kembali” atau Reconquista atas seluruh Semenanjung Iberia dari tangan Islam.

Puluhan kali kerajaan-kerajaan Katolik melakukan pertempuran untuk meruntuhkan kedaulatan Muslimin dari kawasan tersebut. Barulah sejak kerajaan Aragon bersatu dengan Castile-Leon—yang ditandai dengan pernikahan antara Ferdinand II dan Isabella I pada 1469—misi tersebut semakin santer. Granada pun menjadi thaifa terakhir di Andalusia.

Maka, tidak ada lagi perayaan hari-hari besar Islam, seperti Idul Adha atau Idul Fitri, di Spanyol. Sebaliknya, dengan semangat Reconquista Ferdinand II dan Isabella I menjadikan Dia de la Toma sebagai hari libur nasional. Perayaan yang jatuh tiap tanggal 2 Januari itu menjadi momen pengingat jatuhnya Granada ke tangan Kristen, tepatnya pada 2 Januari 1492. Bahkan, hingga kini selebrasi tersebut masih digelar secara rutin tahunan oleh sebagian masyarakat Spanyol.

Sejak akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, kaum Muslimin Andalusia tidak tinggal diam terhadap kekejaman Spanyol. Dapatlah dipahami bahwa tujuan akhir metode Inkuisisi bukanlah kristenisasi, melainkan pengusiran seluruh umat Islam dari Iberia. Berbagai perlawanan pun bergelora di kota-kota di Spanyol. Akan tetapi, rezim setempat dapat memadamkan satu per satu pemberontakan yang terjadi. Sering kali, penguasa menggunakan cara-cara yang sangat kejam dan jauh dari rasa kemanusiaan, semisal membakar orang hidup-hidup.

Dalam situasi demikian, wajar saja bila umat Islam setempat meminta bantuan kepada raja-raja Muslim di luar negeri. Tokoh-tokoh mereka mengirimkan utusan dan surat kepada sejumlah sultan dengan harapan, para penguasa yang seiman itu dapat menyelamatkan penduduk Andalusia dari kezaliman raja dan ratu Katolik ekstrem. Pengiriman duta tersebut menimbulkan kehebohan di dunia Islam.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA