Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Ulama Aljazair Bantah Klaim Macron tentang Ottoman

Selasa 12 Oct 2021 09:12 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

 Ulama Aljazair Bantah Klaim Macron tentang Ottoman. Foto: Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pidatonya saat pembukaan Akademi Organisasi Kesehatan Dunia di Lyon, Prancis tengah, Senin, 27 September 2021.

Ulama Aljazair Bantah Klaim Macron tentang Ottoman. Foto: Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pidatonya saat pembukaan Akademi Organisasi Kesehatan Dunia di Lyon, Prancis tengah, Senin, 27 September 2021.

Foto: AP/Ludovic Marin/AFP Pool
Macron menyebut Ottoman di Aljazair sama dengan penjajahan.

REPUBLIKA.CO.ID,ALJIR -- Asosiasi Ulama Muslim Aljazair menolak klaim Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini, yang menyebut kehadiran Ottoman di Aljazair sama dengan penjajahan.

"Utsmaniyah yang datang ke Aljazair tidak datang sebagai penjajah kolonial, melainkan (mereka datang) atas undangan Aljazair untuk membantu mereka mengalahkan agresi Tentara Salib Spanyol," kata Ketua Asosiasi, Abdul-Razzaq Qassoum, dikutip di Anadolu Agency, Selasa (12/10).

Baca Juga

Ketegangan meningkat antara Prancis dan Aljazair setelah muncul pernyataan Macron tentang masa lalu kolonial negara Afrika Utara itu. Dalam upaya untuk meredakan klaimnya, Macron menyebut ada kolonisasi sebelum pemerintahan kolonial Prancis di Aljazair, mengacu pada kehadiran Ottoman di negara itu antara tahun 1514 dan 1830.

Menurut Qassoum, Ottoman tidak seperti Prancis, tidak membunuh orang Aljazair, menghancurkan tanah mereka atau menjarah kekayaan mereka. Orang Aljazair memiliki banyak kekayaan di bawah Ottoman. Dia juga mengatakan Ottoman tidak memaksakan bahasa mereka pada orang Aljazair atau melawan keyakinan mereka.

“Mereka (Utsmaniyah) tidak melawan keyakinan kami, bahkan Madzhab kami (mazhab hukum Islam) pun tidak," lanjutnya. Sebaliknya, Qassoum mengatakan pasukan kolonial Prancis membawa tragedi ke Aljazair dan kesengsaraan bagi rakyatnya.

Pernyataan Macron pada akhir September yang mengatakan negara Aljazair tidak ada sebelum pemerintahan kolonial Prancis dan kolonisasi lain mendahului negaranya telah memicu badai kecaman di Aljazair.

Presiden Aljazair, Abdelmedjid Tebboune, mengutuk pernyataan Macron sebagai penghinaan yang tidak dapat diterima kepada para martir. Ia juga memanggil Duta Besar negaranya untuk Prancis Antar Daoud untuk konsultasi, serta menutup wilayah udara bagi pesawat militer Prancis yang digunakan dalam operasi anti-terornya di Sahel.

Dalam wawancara yang disiarkan televisi, Tebboune meriwayatkan laporan resmi tentang pembantaian Prancis terhadap hampir 4.000 jamaah selama era kolonial 1830-1962.

Para jamaah terbunuh ketika mereka melakukan aksi duduk di dalam Masjid Ottoman yang disebut Ketchaoua, dalam upaya untuk menghentikannya agar tidak diubah menjadi gereja.

Aljazair merupakan contoh terbaru dan paling berdarah dari sejarah kolonial Prancis di benua Afrika. Sekitar 1,5 juta orang Aljazair terbunuh, sementara jutaan lainnya mengungsi, dalam perjuangan delapan tahun untuk kemerdekaan yang dimulai pada tahun 1954.

Baca juga : Imam Besar Al Azhar Terima Zayed Award for Human Fraternity

Prancis juga telah melakukan genosida budaya terhadap Aljazair sejak tahun 1830, menghancurkan sejarah Ottoman Aljazair yang berusia 300 tahun dan identitas lokalnya sendiri. Prancis juga mengubah banyak monumen budaya dan agama di negara tersebut.

Paris tidak pernah secara resmi meminta maaf kepada Aljazair sebagai negara bagian atas kebijakan kolonialnya.  

Sumber:

https://www.aa.com.tr/en/world/algerian-muslim-scholars-refute-macron-s-claims-on-ottomans/2389123

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA