Sunday, 23 Rabiul Akhir 1443 / 28 November 2021

Sunday, 23 Rabiul Akhir 1443 / 28 November 2021

Paus Fransiskus Malu Atas Kasus Pelecehan Seksual di Gereja

Rabu 06 Oct 2021 17:14 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Paus Francis

Paus Francis

Foto: ap
Paus meminta para pastor untuk terus bekerja dan memastikan kasus ini tak terulang.

REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN -- Paus Fransiskus mengaku sedih dan malu atas terkuaknya kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan para pendeta atau pastor di gereja Katolik Prancis. Dia mengundang umat Katolik di negara tersebut mengambil tanggung jawab guna memastikan bahwa gereja adalah rumah yang aman bagi semua orang.

“Saya ingin mengungkapkan kepada para korban kesedihan dan rasa sakit saya atas trauma yang mereka derita. Dan juga rasa malu, rasa malu kami, rasa malu saya atas ketidakmampuan gereja terlalu lama untuk menempatkan mereka (para korban) di pusat perhatiannya,” kata Paus Fransiskus dalam audiensi mingguannya pada Rabu (6/10), dikutip laman Deutsche Welle.

Dia meminta para pendeta terus bekerja guna memastikan situasi seperti itu tidak terulang. Paus Fransiskus menawarkan dukungannya kepada mereka untuk menghadapi “cobaan yang sulit tapi sehat ini”.

Sekitar 216 ribu anak, mayoritas laki-laki, telah dilecehkan secara seksual oleh gereja Katolik Prancis sejak 1950. Hal itu terungkap dari hasil penyelidikan selama dua setengah tahun oleh French Catholic Church (FCC).

Penyelidikan tersebut dilakukan dengan menyisir catatan pengadilan, polisi, dan gereja. FCC pun berbicara kepada para korban dan saksi. "Angka-angka ini lebih dari mengkhawatirkan. Mereka (data) memberatkan dan sama sekali tidak bisa dibiarkan tanpa tanggapan," kata kepala penyelidikan, Jean-Marc Sauvé, dikutip laman BBC, Selasa (5/10).

Laporan setebal hampir 2.500 halaman menyebut, sebagian besar korban pelecehan adalah anak laki-laki. Banyak dari mereka berusia antara 10 dan 13 tahun. Sementara bukti menunjukkan terdapat 3.200 pastor yang terlibat sebagai pelaku. Angka itu dinilai masih terlalu rendah.

Sauvé mengatakan, gereja tidak hanya gagal mencegah pelecehan, tapi juga gagal melaporkan kasus-kasus tersebut. Gereja, menurut dia, bahkan kadang secara sadar menempatkan anak-anak dalam kontak dengan predator. "Gereja Katolik, setelah lingkaran keluarga dan teman, adalah lingkungan yang memiliki prevalensi tertinggi kekerasan seksual," ucapnya.

Sebagian besar kasus yang ditemukan dinilai terlalu tua untuk dituntut di bawah hukum Prancis. Namun Sauvé meminta gereja membayar ganti rugi. Merespons temuan tersebut, Presiden the Bishops' Conference of France (CEF) Uskup Agung Eric de Moulins-Beaufort mengutarakan penyesalan mendalam. "Keinginan saya hari ini adalah untuk meminta pengampunan dari Anda masing-masing," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA