Wednesday, 16 Jumadil Akhir 1443 / 19 January 2022

Wednesday, 16 Jumadil Akhir 1443 / 19 January 2022

Geliat Sentra Rajut Binong Jati di Masa Pandemi

Rabu 06 Oct 2021 12:46 WIB

Rep: fauzi ridwan/ Red: Hiru Muhammad

Dewi Ratna Purwanti, salah seorang pengrajin rajut di sentra rajut di Binong Jati, Kota Bandung sedang memegang produk rajut miliknya. Pemkot Bandung menetapkan kawasan rajut Binong Jati sebagai kampung wisata, Rabu (6/10).

Dewi Ratna Purwanti, salah seorang pengrajin rajut di sentra rajut di Binong Jati, Kota Bandung sedang memegang produk rajut miliknya. Pemkot Bandung menetapkan kawasan rajut Binong Jati sebagai kampung wisata, Rabu (6/10).

Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Produk rajutan BInong Jati pada masanya sempat di ekspor ke Australia bahkan AS

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Bila berkunjung ke kota Bandung, tepatnya di Jalan Binong Jati, Kecamatan Batununggal Kota Bandung terdapat kawasan sentra rajut yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Kawasan tersebut menyatu dengan pemukiman padat penduduk.

Dari arah TSM, tepatnya sebelum perempatan lalu lintas Kiaracondong, Jalan Ibrahim Adjie posisi kawasan sentra rajut berada di kanan jalan. Anda yang memasuki kawasan tersebut dapat langsung melihat pelang bertulisan kawasan rajut Binong Jati, Kota Bandung.

Deretan rumah yang memanjang memadati kawasan itu. Belasan rumah diantaranya merupakan toko yang memproduksi dan menjual bahan baku serta alat rajut maupun produk rajut seperti jaket, mantel, syal dan lainnya. Diantara toko-toko tersebut pula terdapat warung-warung milik warga.

Salah seorang pengrajin rajut, Dewi Ratna Purwanti (31 tahun) mengungkapkan bahwa ia adalah generasi ketiga dari keluarga pengrajin rajut. Keluarga besarnya dulu memulai usaha rajut pada tahun 1998 sedangkan dirinya memulai usaha pada tahun 2015 lalu.

"Orang tua asli sini Binong Jati juga pengrajin rajut sejak 1998. Saya sendiri generasi ketiga mulai usaha tahun 2015," ujarnya kepada wartawan saat acara peresmian Binong Jati sebagai Kampung Wisata Kreatif, Rabu (6/10).

Ia mengaku tidak mengetahui secara persis sejarah pengrajin rajut di Binong Jati. Namun Dewi mengetahui pada generasi pertama keluarganya, produk yang terkenal adalah mantel rajut yang biasa digunakan saat musim dingin.

Produk-produk tersebut pada masanya sempat di ekspor ke Australia bahkan Amerika Serikat. Seiring berjalannya waktu, produk yang diproduksi tidak hanya untuk musim dingin tapi sehari-hari.

Sebelum tahun 2015, bisnis rajut di Binong Jati mengalami pasang surut. Namun sejak dirinya terjun langsung ke bisnis rajut mulai mengalami peningkatan terlebih ia membuat model-model baru sesuai yang diinginkan pasar seperti baju Korea.

"Binong Jati naik turun usaha rajut dulu sempat turun banget. Saya mulai tahun 2015, saya mulai buat model baru motif baru kekinian. Pas saya lagi naik karena kiblat saya ke Korea-Korean saya buat model itu yang lain ikut," katanya yang memiliki brand Kampoeng Radjoet.

Ia menuturkan, produknya masuk ke pasar Tanah Abang, Jakarta selain itu pernah mengekspor ke New Zealand dan Meksiko. Sebelum pandemi terjadi, tiap bulan Dewi memproduksi pasmina sebanyak 1.000 pieces ke Malaysia."Yang diekspor keluar negeri kupluk dan syal. Saya belum ada syarat ekspor jadi pakai pihak ketiga. Alhamdulillah sekarang difasilitasi Disdagin," ujarnya.

Ia menambahkan, total pengrajin rajut di Binong Jati kurang lebih sebanyak 400 orang. Mereka memproduksi produk rajut berskala home industri. Dewi mengatakan pada awal-awal pandemi Covid-19, pengrajin rajut terkena dampak signifikan namun seiring waktu mulai mengalami perbaikan omset dengan salah satunya menjual produk secara online."Dampak pandemi kena awal-awal. Kita open PO syal umroh sekarang masih ada belum dijual. Dulu awal drop banget sekarang aktif lagi dan di online membaik," katanya.

Ia mengaku menjual produk rajut dari harga Rp 40 ribu hingga Rp 500 ribu. Bahan baku sendiri ia peroleh dengan mudah di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Dewi Kania Sari mengatakan pihaknya telah meresmikan tiga kampung wisata di Kelurahan Braga, Kelurahan Cigadung dan Kelurahan Binong. Selanjutnya, pihaknya berencana meresmikan kampung literasi di Kecamatan Cinambo." Tidak top down tapi masyarakat terlibat," katanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA