Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Sampaikan Salam Jokowi, Dubes RI Temui Presiden Latvia

Selasa 05 Oct 2021 21:29 WIB

Red: Yeyen Rostiyani

Dubes RI untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo (kiri), bertemu Presiden Latvia Egils Levits, Selasa (5/10).

Dubes RI untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo (kiri), bertemu Presiden Latvia Egils Levits, Selasa (5/10).

Foto: Dokumentasi KBRI Stockholm
Latvia adalah negara mitra dagang RI terbesar di wilayah Baltik.

REPUBLIKA.CO.ID, RIGA – Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo, bertemu Presiden Latvia Egils Levits, Selasa (5/10). Sang dubes menyerahkan Surat-Surat Kepercayaan (Letters of Credentials) kepada Levits di Istana Riga.

Kamapradipta, yang akrab disapa Kama, menyampaikan salam Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kepada Levits. Dalam pertemuan empat mata, Kama dan Levits membahas peningkatan perdagangan dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Tiga isu yang dibahas antara lain tentang keinginan kedua negara untuk meningkatkan hubungan perekonomian, terutama perdagangan dua arah. Latvia adalah negara mitra dagang terbesar di wilayah Baltik, dengan nilai total transaksi 95 juta dolar AS pada 2020.

"Latvia adalah negara mitra penting bagi Indonesia di wilayah Baltik. Sebagai negara anggota Uni Eropa (UE), Latvia memiliki daya tarik untuk menjadi pintu masuk produk Indonesia untuk masuk ke pasar UE dan wilayah Baltik," ujar Kama dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Selasa.

Latvia juga negara yang berpotensi untuk menjadi mitra untuk investasi di bidang manajemen pelabuhan dan logistik. Pada sektor pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan Latvia ke Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Puncaknya terjadi pada 2019 sebelum pandemi, yang mencapai 5.000 pengunjung.

Isu berikutnya adalah pentingnya kedua negara untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama di tengah meningkatnya kepentingan geopolitik di wilayah masing-masing negara. Kama menggarisbawahi pentingnya untuk mengedepankan arsitektur kawasan yang ada saat ini, untuk mendukung tercapainya perdamaian dan kesejahteraan bersama.

"Sebagai salah satu penggagas Gerakan Non-Blok, Indonesia terus membina hubungan politik yang sama dekat dengan seluruh negara, dan bersifat netral. Penyelesaian konflik atau perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui kerangka regional," ujar Kama.

Isu selanjutnya adalah perlunya kedua negara untuk terus mendukung multilateralisme untuk mendorong agenda dan kepentingan bersama, baik di bidang politik maupun ekonomi. Levits dan Kama sepakat, pendekatan multilateralisme akan semakin penting di masa mendatang, terutama menghadapi tantangan perubahan iklim dan kompleksitas perdagangan global.

"Latvia sangat mendukung mekanisme multilateral, dan di bidang ekonomi telah ambil posisi untuk terus mendorong tercapainya kesepakatan kawasan perdagangan bebas EU-ASEAN," ujar Levits.

Dalam rangkaian kunjungan resmi ke Riga, Kama turut bertemu Menteri Luar Negeri Andris Pelšs, Wakil Ketua Presidium Parlemen Inese Voika, Wakil Menteri Perekonomian Zaiga Liepiņa, dan Penjabat Wakil Menteri Pertahanan Ginta Brūmane-Gromula. Di antara rangkaian pertemuan tersebut, Kama juga melakukan kunjungan ke dua museum bersejarah, yaitu Occupation Museum of Latvia dan Art Museum Riga Bourse. 

Latvia adalah negara Baltik terbesar dengan jumlah populasi 1,9 juta jiwa. Latvia telah menjadi anggota Uni Eropa sejak 1994. Berdasarkan Indeks OECD, Latvia berada pada peringkat ke-30 perekonomian paling terbuka di dunia, dan ke-17 di antara 45 negara di kawasan Eropa.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA