Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Jutaan Siswi Afghanistan Menanti Cemas Nasib Sekolah Mereka

Selasa 05 Oct 2021 19:37 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Nashih Nashrullah

Para wanita berbaris menuntut hak-hak mereka di bawah pemerintahan Taliban selama demonstrasi di dekat bekas gedung Kementerian Urusan Wanita di Kabul, Afghanistan, Minggu, 19 September 2021.

Para wanita berbaris menuntut hak-hak mereka di bawah pemerintahan Taliban selama demonstrasi di dekat bekas gedung Kementerian Urusan Wanita di Kabul, Afghanistan, Minggu, 19 September 2021.

Foto: AP
Taliban belum putuskan izin sekolah siswi dalam waktu dekat

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL – Jutaan siswi di seluruh Afghanistan menunggu dengan cemas untuk kembali bersekolah. Saat ini sekolah menengah harus ditutup yang meningkatkan kekhawatiran tentang masa depan pendidikan perempuan di bawah Taliban.

Taliban mengizinkan anak laki-laki dalam kelompok usia tujuh hingga 12 tahun untuk menghadiri kelas pada bulan lalu. 

Baca Juga

Saat itu Wakil Menteri Informasi dan Kebudayaan, Taliban Zabihullah Mujahid, mengatakan Taliban tengah mengerjakan prosedur untuk mengizinkan siswa perempuan kembali bersekolah.

Dalam konferensi pers pertama Taliban setelah menguasai Afghanistan pada 15 Agustus, mereka telah berjanji untuk mengizinkan perempuan bekerja dan belajar. 

Pengecualian yang terus terjadi pada anak perempuan dari sekolah hanya memperburuk ketakutan di masyarakat Afghanistan bahwa Taliban dapat kembali seperti saat mereka berkuasa pada 1990-an.

Dalam satu setengah bulan sejak mereka berkuasa, Taliban mengatakan kepada pekerja pemerintah perempuan untuk tinggal di rumah. Mereka mengumumkan kabinet yang semuanya laki-laki dan menutup Kementerian Urusan Perempuan.

Advokat Pendidikan, Toorpekai Momand, mengatakan penundaan sekolah bagi siswa perempuan telah membuat mereka mengajukan pertanyaan berbahaya, seperti “Mengapa Taliban memiliki masalah dengan kita? Mengapa hak kami yang diambil?”

Momand yang telah menghabiskan 10 tahun bekerja sebagai administrator sekolah, termasuk di antara ratusan perempuan di Afghanistan dan luar negeri yang berusaha memastikan Taliban memenuhi janji mereka untuk mengizinkan perempuan kembali ke sekolah dan kantor.

Momand telah mengalami kesulitan dalam mencoba mendapatkan kepastian penundaan itu dari Taliban. Saat dia bersama rekan-rekannya bertemu dengan pejabat Taliban, mereka diberitahu Taliban bekerja sangat keras untuk mematuhi norma-norma dalam pendidikan perempuan.

“Mereka tidak pernah keluar begitu saja dan berkata tidak. Mereka terus mengatakan ‘Kami sedang mengerjakannya’ tetapi kami tidak tahu persis apa yang sedang mereka kerjakan,” kata Momand, dilansir Aljazirah, Selasa (5/10).

Semua wanita yang berbicara dengan Aljazirah menjelaskan dalam 100 tahun sejak pemerintah Afghanistan mendirikan sekolah resmi untuk anak perempuan, lembaga-lembaga itu selalu menganut prinsip-prinsip agama. Sekolah dasar dan menengah selalu dipisahkan berdasarkan gender dan aturan berpakaian selalu ada. 

 

Sumber: aljazirah 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA