Friday, 18 Jumadil Akhir 1443 / 21 January 2022

Covid-19 Singapura Naik, Otoritas: 98 Persen Gejala Ringan

Ahad 03 Oct 2021 05:27 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Dwi Murdaningsih

Covid 19 (ilustrasi)

Covid 19 (ilustrasi)

Foto: Max Pixel
98 pesen pasien yang terinfeksi di Singapura memiliki gejala ringan atau tanpa gejala

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah kasus Covid-19 di Singapura terus meningkat bahkan diprediksi masih akan meningkat hingga pekan depan. Kendati demikian, menurut Kementerian Kesehatan Singapura, pasien yang terinfeksi Covid-19 hanya menunjukkan gejala ringan bahkan tanpa gejala, sehingga dapat melakukan pemulihan dari rumah.

"Meskipun jumlah kasus harian terus meningkat, sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan, dan bisa untuk pemulihan di rumah," kata Kementerian, Sabtu (2/10) melalui sebuah pernyataan.
 
Kementerian mengatakan, sekitar dari 98 pesen pasien yang terinfeksi memiliki gejala ringan atau tanpa gejala. Sedangkan pasien yang membutuhkan perawatan ICU atau meninggal dunia hanya sekitar 0,3 persen.
 
"Saat ini, total 34 tempat tidur ICU ditempati dan kami memperkirakan jumlahnya akan meningkat. Kami akan terus memantau kapasitas dan utilisasi secara ketat," kata Kementerian.
 
Menurut kementerian, presentase jumlah pasien yang membutuhkan perawatan ICU lebih rendah karena keberhasilan negara dalam memberikan vaksinasi kepada sebagian besar masyarakatnya. Kasus kematian akibat Covid-19 ini pun, lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak divaksinasi (0,12 persen berbanding 1,67 persen).
 
Kementerian juga memutuskan bahws mulai 6 Oktober nanti, pelancong yang memasuki Singapura hanya akan menjalani masa dikarantina selama 10 hari. Kemudian, tindakan di perbatasan juga akan ditentukan berdasarkan riwayat perjalanan wisatawan dalam 14 hari terakhir.
 
"Artinya, penumpang dengan riwayat perjalanan ke Indonesia dalam 14 hari terakhir sebelum keberangkatan ke Singapura akan diizinkan transit melalui Singapura," kata dia.
 
Singapura ingin meminimalkan angka kematian sembari membuka kembali kegiatan sosial dan ekonomi secara bertahap. "Kita perlu belajar untuk hidup berdampingan virus, dan memahami bahwa bagi sebagian besar orang, terutama mereka yang divaksinasi, itu bukan penyakit serius. Kita semua sedang menghadapi masa yang penuh tantangan, yang tidak akan mudah untuk diatasi," ujarnya.
 
 
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA