Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Qatar Kecewa Atas Langkah Taliban pada Pendidikan Wanita

Jumat 01 Oct 2021 05:06 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Teguh Firmansyah

Mahasiswa Afghanistan menghadiri kelas di Universitas Mirwais Neeka di Kandahar, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban secara resmi mengumumkan pada 12 September pemisahan siswa pria dan wanita di semua universitas negeri dan swasta di negara itu. Institusi pendidikan diharuskan memiliki gedung terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan, jika tidak ada, mereka akan menghadiri kelas di gedung yang sama tetapi pada waktu yang berbeda.

Mahasiswa Afghanistan menghadiri kelas di Universitas Mirwais Neeka di Kandahar, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban secara resmi mengumumkan pada 12 September pemisahan siswa pria dan wanita di semua universitas negeri dan swasta di negara itu. Institusi pendidikan diharuskan memiliki gedung terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan, jika tidak ada, mereka akan menghadiri kelas di gedung yang sama tetapi pada waktu yang berbeda.

Foto: EPA-EFE/STRINGER
Qatar menilai sikap Taliban atas pendidikan anak wanita sebagai langkah mundur.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Menlu Qatar Syekh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan langkah Taliban pada pendidikan anak perempuan di Afghanistan sangat mengecewakan, dan merupakan langkah mundur. Ia meminta kelompok itu untuk melihat Qatar tentang cara menjalankan sistem Islam.

Pernyataan Mohammed bin Abdulrahman Al Thani ini mengacu pada penolakan Taliban untuk mengizinkan siswa sekolah menengah perempuan Afghanistan melanjutkan studi mereka. Taliban melarang perempuan di sekolah menengah, tepat beberapa minggu setelah kelompok itu mengambil alih kekuasaan.

"Tindakan baru-baru ini yang telah kita lihat, sayangnya di Afghanistan, sangat mengecewakan melihat beberapa langkah mundur," katanya dilansir dari Aljazirah, Kamis (30/9).

Doha telah menjadi perantara utama di Afghanistan setelah penarikan pasukan AS bulan lalu. Qatar juga membantu mengevakuasi ribuan orang asing dan Afghanistan.

“Kami perlu terus melibatkan mereka dan mendesak mereka untuk tidak mengambil tindakan seperti itu, dan kami juga telah mencoba untuk menunjukkan kepada Taliban bagaimana negara-negara Muslim dapat menjalankan hukum mereka, bagaimana mereka dapat menangani masalah-masalah perempuan,” kata Sheikh Mohammed.

 “Salah satu contohnya adalah Negara Qatar, yang merupakan negara Muslim;  sistem kami adalah sistem Islam [tetapi] kami memiliki jumlah perempuan melebihi laki-laki dalam angkatan kerja, pemerintahan dan pendidikan tinggi," terangnya.

Taliban telah dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam beberapa pekan terakhir, termasuk secara terbuka mengikat jasad empat orang yang diduga penculik dari crane di Herat pekan lalu. Mereka menampilkan tersangka penculikan yang tewas dalam baku tembak. Ini adalah hukuman publik paling terkenal sejak Taliban berkuasa bulan lalu.

Baca Juga

Baca juga : Harga Opium Melambung Usai Taliban Berkuasa

Taliban mengikuti interpretasi hukum agama yang sangat ketat versi mereka. Sudah hampir dua pekan sejak anak perempuan dilarang pergi ke sekolah menengah, dan demonstrasi terisolasi yang dipimpin oleh perempuan telah pecah di seluruh Afghanistan dalam beberapa hari terakhir.

Sheikh Mohammed meminta Taliban untuk mempertahankan dan melestarikan keuntungan yang dibuat dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi juga memperingatkan komunitas internasional dan negara-negara "sahabat" untuk tidak mengisolasi Afghanistan.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA