Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Sejumlah Guru Perempuan Minta AS Cairkan Aset Afghanistan

Rabu 29 Sep 2021 23:50 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

 Seorang pedagang penukaran mata uang menghitung Afgani ketika orang-orang berkumpul untuk menarik uang dari sebuah bank di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).

Seorang pedagang penukaran mata uang menghitung Afgani ketika orang-orang berkumpul untuk menarik uang dari sebuah bank di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).

Foto: EPA-EFE/STRINGER
Guru dan tenaga medis minta AS cairkan aset Afghanistan agar mereka bisa digaji

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL – Sejumlah guru perempuan dan petugas kesehatan di Afghanistan meminta Amerika Serikat (AS), termasuk sekutunya, mencairkan aset berupa dana bernilai miliaran dolar milik negara tersebut. Mereka berharap dana itu dapat dikembalikan atau diberikan kepada pemerintahan Taliban saat ini.

Dilaporkan laman Khaama Press News Agency, dalam sebuah konferensi pers pada Selasa (28/9) para guru dan petugas kesehatan tersebut turut meminta bank internasional dan organisasi lain untuk membantu membayar gaji mereka. Mereka mengatakan Afghanistan membutuhkan dukungan keuangan dari bank dan organisasi internasional. Sebab hanya dengan cara demikian warga seperti mereka dapat melanjutkan pekerjaannya.

Baca Juga

Mereka kembali menekankan Afghanistan hidup dalam situasi ekonomi yang kritis. Oleh sebab itu mereka dan warga lainnya layak memperoleh bantuan. Sebelumnya Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Mutaqqi sempat menuntut AS mencairkan aset Afghanistan. Ia pun meminta Washington menghapus nama para pemimpin Taliban dari daftar terorisme.

Mutaqqi mengatakan Taliban membutuhkan aset yang dibekukan AS untuk menjalankan pemerintahan di Afghanistan. Dia mendesak Washington tidak mencampurkan masalah kemanusiaan dan politik.

“Kami memberikan jalan yang aman bagi tentara AS untuk meninggalkan Afghanistan. Namun alih-alih berterima kasih kepada kami, AS membekukan aset Afghanistan,” kata Mutaqqi pada 14 September lalu, dikutip laman Al Arabiya.

Saat Taliban menguasai Afghanistan pada 15 Agustus lalu, AS membekukan sejumlah aset milik negara tersebut. Aset tersebut antara lain berupa cadangan mata uang asing, investasi, dan emas senilai hampir 10 miliar dolar AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA